639 Hektare Lahan Masih Terbakar, Prabowo Kerahkan 60.177 Personel untuk Atasi Karhutla
JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh sumber daya dikerahkan untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan laporan terbaru, sekitar 639 hektare lahan masih dalam proses pemadaman.
Arahan tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya seusai rapat terbatas yang dipimpin Prabowo untuk membahas penanganan karhutla. Rapat digelar secara hybrid di Istana Negara pada Senin (12/10/2026).
“Presiden meminta agar upaya penanganan karhutla terus diperkuat dan seluruh sumber daya dikerahkan secara optimal untuk mempercepat pemadaman serta mencegah meluasnya kebakaran,” kata Teddydikutip Selasa (13/10/2026).
Teddy mengatakan, rapat tersebut membahas perkembangan penanganan karhutla, termasuk laporan mengenai luas lahan yang masih dalam proses pemadaman.
Berdasarkan laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), enam provinsi masih menghadapi kebakaran, dengan perhatian utama diarahkan ke Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
“Berdasarkan laporan Kepala BNPB, di 6 provinsi paling terdampak karhutla masih terdapat sekitar 639 hektare lahan yang dalam proses pemadaman. Saat ini fokus utama tertuju pada 2 provinsi, yaitu Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan,” ujarnya.
Pemerintah mengerahkan lebih dari 60 ribu personel gabungan untuk melakukan pemadaman melalui operasi darat. Selain itu, operasi udara menggunakan metode water bombing terus dilakukan untuk mempercepat penanganan kebakaran di sejumlah wilayah.
“Operasi darat didukung lebih dari 60.177 personel gabungan, dengan tingkat keberhasilan pemadaman rata-rata di atas 80% dari luas lahan yang baru terbakar setiap harinya. Operasi udara melalui water bombing di sejumlah wilayah juga terus dilakukan untuk mempercepat pemadaman,” ungkapnya.
Di sisi lain, kondisi karhutla di Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan dilaporkan menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Pemerintah juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memanfaatkan pertumbuhan awan hujan. Langkah ini dilakukan seiring perkiraan awal musim hujan yang mulai merata pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026.
“Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dioptimalkan untuk memanfaatkan pertumbuhan awan hujan, seiring perkiraan awal musim hujan yang mulai merata pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026,” ucap dia.
Editor: Puti Aini Yasmin