Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Puncak Gunung Fuji Diselimuti Salju, 2 Pekan Lebih Cepat dari Tahun Lalu
Advertisement . Scroll to see content

7 Perang Legendaris antara Kerajaan-kerajaan di Indonesia

Selasa, 27 Desember 2022 - 18:26:00 WIB
7 Perang Legendaris antara Kerajaan-kerajaan di Indonesia
Perang Legendaris Kerajaan di Indonesia (Dok. Kemdikbud)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Indonesia terdiri atas beberapa kerajaan saat masih berada di era Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri pun ternyata pernah terlibat sebuah perang. 

Salah satu penyebab terjadinya peperangan di Nusantara adalah perebutan kekuasaan. Bahkan, di antaranya menjadi yang paling legendaris dalam sejarah. Apa saja itu?

Perang Legendaris Kerajaan di Indonesia

  • 1. Perang Bubat

Perang Bubat adalah perang terkenal di zaman kerajaan yang melibatkan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda. Dalam jurnal Transformatika (2015) berjudul ‘Resepsi Cerita Perang Bubat dalam Novel Niskala Karya Hermawan Aksan’, perang Bubat berlangsung di sekitar pesanggrahan Bubat, yang menjadi lokasi penginapan rombongan Kerajaan Sunda.

Perang Bubat terjadi pada tahun 1357 Masehi atau 1279 Saka, ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk dan Kerajaan Sunda di bawah kendali Maharaja Linggabuana. Hampir seluruh pasukan Kerajaan Sunda tewas, termasuk raja dan permaisurinya. Putri Raja yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi juga tewas, usai bunuh diri di lapangan peperangan.

Ada berbagai versi yang menceritakan penyebab pecahnya perang besar ini. Contohnya adalah Carita Parahyangan yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta, yang menyebutkan bahwa Dyah Pitaloka lebih memilih suami dari kalangan orang Jawa daripada orang Sunda.
 
Cerita itu berbeda dengan kisah yang ada pada Kidung Sunda, yang berasal dari Bali. Di dalamnya tertulis bahwa Hayam Wuruk ingin sekali mencari permaisuri dan jatuh cinta dengan seorang putri Sunda.

Namun, nama putri Sunda itu tidak disebutkan dalam kidung tersebut. Di sisi lain, Gajah Mada tidak menghendaki hal itu lantaran menganggap bahwa orang Sunda harus tunduk kepada orang Majapahit. Jumlah pasukan yang tidak seimbang adalah penyebab utama dari kekalahan Kerajaan Sunda. 

  • 2. Perang Kerajaan Panjalu dengan Kerajaan Jenggala

Kerajaan Panjalu dan Jenggala merupakan dua kerajaan yang berada di kawasan Mataram Kuno. Perang ini diketahui terjadi karena perebutan kekuasaan dalam takhta Kahuripan.

Melansir Okezone, Raja Kahuripan yang kala itu memimpin, Airlangga, berniat mewariskan tahtanya kepada putri mahkota bernama Sanggramawijaya Tunggadewi. Namun, Tunggadewi memilih untuk menimba ilmu batin dan tidak ingin menjadi pemimpin.

Mengetahui keinginan tersebut, Airlangga meminta saran kepada Mpu Bharada dan akhirnya memutuskan untuk membagi wilayah kekuasaannya menjadi dua, yakni Panjalu atau Kediri dan Jenggala kepada kedua putranya.
  
Sri Samarawijaya berhak atas kekuasaan di Panjalu, sedangkan Mapanji Garasakan diamanahi kekuasaan di Jenggala. Sayangnya, kedua putra raja ini berselisih hingga mengakibatkan perang.

Dalam perang ini, kedua belah pihak sama-sama memperebutkan wilayah. Perang memuncak ketika Raja Airlangga wafat. Perang ini berlangsung selama 60 tahun dengan kemenangan di pihak Kerajaan Panjalu. 

  • 3. Perang Paregreg

Selanjutnya, ada Perang Paregreg yang terjadi selama dua tahun, yakni dari 1404 sampai 1406. Perang ini terjadi antara istana barat Majapahit pimpinan Wikramawardhana dengan istana timur Majapahit yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi.

Perang Paregreg dimulai dari pemberontakan yang dilakukan Bhre Wirabhumi, yang kemudian menjadi salah satu faktor kemerosotan Majapahit. Dalam artikel karya Soeroso bertajuk ‘Bhattara Narapati’, Perang Paregreg berujung pada hancurnya kerajaan timur dan tewasnya Bhre Wirabhumi.

Dalam Pararaton, disebutkan bahwa Bhre Wirabhumi dibunuh pada tahun 1406 ketika sedang melarikan diri dengan perahu. Kepalanya dipenggal, dan dibawa kembali ke Majapahit. 

  • 4. Perang Saudara Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram pernah mengalami perang saudara yang terjadi usai Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601. Hanyakrawati diangkat sebagai Raja Mataram yang baru, namun menimbulkan kekecewaan di benak Pangeran Puger yang merupakan kakak tiri Hanyakrawati.

Sebab, ia merasa yang paling pantas untuk memimpin Mataram. Mengetahui sang kakak kecewa, Hanyakrawati memberikan jabatan sebagai Adipati Demak kepada Puger. Merasa tidak puas, Puger melakukan pemberontakan dan ingin Demak lepas dari wilayah Mataram.

Tepat setahun setelah Panembahan Senopati berpulang, perang saudara antara Demak dan Mataram pun pecah, yang berlangsung selama 3 tahun. Puger akhirnya berhasil ditangkap dan diasingkan ke Kudus. 

  • 5. Perang Ganter

Perang Ganter terjadi di masa Kerajaan Singosari, tepatnya pada abad ke-13. Perang terbesar di Indonesia ini melibatkan Ken Arok dan Raja Kediri bernama Kertajaya. Melansir Sindonews, perang ini pecah di kawasan Ganter (kini Malang) dan dimenangkan oleh Ken Arok.

Setelahnya, Ken Arok dipatrikan sebagai penguasa Jawa Timur sekaligus pendiri Kerajaan Singasari. Ken Arok sendiri awalnya merupakan kepala desa yang ingin meningkatkan kekuatan politiknya.

Ken Arok juga menjadi dalang pembunuhan Tunggul Ametung dan merebut istrinya, Ken Dedes. Usai menggantikan Tunggul Ametung sebagai pemimpin Tumapel, ia lantas merencanakan peperangan melawan Kerajaan Kediri yang merupakan saingan lawas Tumapel. 

Di sisi lain, Kertajaya yang mengetahui siasat itu langsung mengerahkan pasukannya dan bersiap menemui Ken Arok dalam pertempuran. Puncak perang terjadi pada tahun 1222 (beberapa sumber menyebut tahun 1221) di Ganter, Kediri timur. Ken Arok berhasil membuat Kertajaya dan pasukan Kediri menyerah. 

6. Pemberontakan Jayakatwang

Jayakatwang adalah Bupati Gelanggelang yang melakukan pemberontakan pada tahun 1292. Aksinya ini berhasil meruntuhkan Kerajaan Singasari pimpinan Kertanegara. Ia sangat berambisi untuk membangkitkan kembali Kerajaan Kediri, yang merupakan kerajaan leluhurnya.

Jayakatwang memulai rencananya dengan mengirimkan pasukan kecil di bawah kendali Jaran Guyang. Mengetahui hal tersebut, Kertanegara mengirimkan pasukan Singasari yang dipimpin langsung oleh Raden Wijaya.

Pemberontakan ini berujung pada terbunuhnya Kertanegara di istananya sendiri. Disebutkan, ia tengah melakukan pesta minuman keras dan tidak mengetahui kedatangan pasukan Jayakatwang. Bersama pasukan Gelanggelang, Jayakatwang dengan mudah membunuh Kertanegara. 

7. Penyerangan Raden Wijaya kepada Jayakatwang

Usai berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang berhasil berkuasa, meskipun tidak lama. Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara melakukan balas dendam dengan bantuan pasukan Mongol.

Sebelum membunuh Jayakatwang, Raden Wijaya sempat mengaku ingin mengabdikan dirinya. Langkah itu ia lakukan atas saran dari Bupati Madura, Arya Wirajaya. Mendapatkan kepercayaan dari Jayakatwang, Raden Wijaya mendapatkan sebuah wilayah bernama Hutan Tarik.

Namun, wilayah itu justru menjadi tempatnya membangun kekuatan. Dengan dukungan bala tentara pasukan Mongol, Jayakatwang berhasil dijatuhkan dan Kerajaan Gelanggelang pun runtuh.

Demikian informasi mengenai perang antarkerajaan di Indonesia. Semoga bisa menambah pengetahuan kamu ya!

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut