Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkeu Purbaya Tegaskan Pajak Kendaraan Listrik Tak Naik, Meski Kena PKB dan SWDKLLJ
Advertisement . Scroll to see content

BBM Bikin Menjerit, Mobil Listrik Dinilai Jadi Penumpang Pasar Otomotif

Rabu, 22 April 2026 - 19:53:00 WIB
BBM Bikin Menjerit, Mobil Listrik Dinilai Jadi Penumpang Pasar Otomotif
Mobil listrik (EV) kini semakin dilirik masyarakat dan berpotensi menjadi penopang utama pertumbuhan pasar otomotif. (Foto: Dok iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendorong pergeseran tren di industri otomotif nasional. Mobil listrik atau electric vehicle (EV) kini semakin dilirik masyarakat dan berpotensi menjadi penopang utama pertumbuhan sektor ini.

Lonjakan minat terhadap EV terlihat dari peningkatan penjualan yang konsisten sejak tahun lalu hingga memasuki 2026. Selain faktor kenaikan harga BBM nonsubsidi, selisih harga antara kendaraan listrik dan mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) yang semakin tipis turut mempercepat adopsi.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memperkuat daya tarik EV. Jarak tempuh kendaraan listrik kini mampu mencapai hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian penuh, sehingga kekhawatiran terkait keterbatasan jarak tempuh mulai berkurang.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), terjadi perubahan signifikan dalam struktur pasar otomotif. Pangsa mobil ICE yang pada 2021 mencapai 99,6 persen turun menjadi 78,2 persen pada 2025. Sementara itu, kontribusi battery electric vehicle (BEV) meningkat dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen.

Memasuki Maret 2026, tren tersebut terus berlanjut. Pangsa BEV naik menjadi 15,6 persen, sedangkan ICE turun menjadi 75 persen. Penjualan BEV tercatat meningkat signifikan sebesar 96 persen menjadi 33.146 unit dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 16.926 unit.

Sebaliknya, penjualan mobil konvensional mengalami penurunan dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Secara keseluruhan, pertumbuhan industri otomotif hanya mencapai 1,7 persen, jauh di bawah laju pertumbuhan kendaraan listrik.

Hingga akhir 2026, pangsa mobil listrik diproyeksikan mencapai kisaran 19 hingga 20 persen. Namun, momentum ini dihadapkan pada tantangan kebijakan, khususnya terkait insentif pajak daerah.

Mulai 1 April 2026, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026, kendaraan listrik tidak lagi secara otomatis mendapatkan pembebasan pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB). Kebijakan insentif kini diserahkan kepada masing-masing pemerintah daerah.

Pelaku industri menilai kebijakan tersebut perlu diimbangi dengan strategi yang tepat agar pertumbuhan EV tetap terjaga. Salah satunya melalui penerapan tarif pajak progresif, di mana kendaraan listrik dengan harga tinggi dikenakan tarif lebih besar, sementara model dengan harga lebih terjangkau diberikan keringanan.

Selain kendaraan listrik murni, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dinilai dapat menjadi solusi transisi. Teknologi ini memungkinkan penggunaan tenaga listrik untuk mobilitas harian, namun tetap didukung mesin berbahan bakar untuk perjalanan jarak jauh.

Kondisi tersebut dinilai relevan bagi Indonesia, terutama dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur pengisian daya di luar Pulau Jawa. Dengan fleksibilitas tersebut, PHEV dinilai layak mendapatkan dukungan insentif tambahan.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Setia Diarta mengatakan pemerintah terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.

"Sebab itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,” ujarnya, dalam diskusi Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Data Kementerian Perindustrian mencatat saat ini terdapat 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun. Selain itu, terdapat 68 perusahaan sepeda motor listrik dengan kapasitas 2,51 juta unit per tahun serta sembilan perusahaan bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun.

Total investasi di sektor kendaraan listrik telah mencapai Rp25,674 triliun. Sementara itu, populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 mencapai 358.205 unit, didominasi sepeda motor listrik sebanyak 236.451 unit.

Pertumbuhan ini menunjukkan tren positif dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) di atas 140 persen dalam lima tahun terakhir. Perubahan preferensi konsumen ke kendaraan ramah lingkungan dinilai menjadi sinyal kuat transformasi industri otomotif nasional.

“Kami ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan, tetapi terus berkembang menuju pendalaman struktur industri, termasuk baterai, komponen utama, dan rantai pasok nasional,” kata Setia Diarta.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai industri otomotif Indonesia tengah mengalami perubahan struktural. Dominasi kendaraan berbahan bakar fosil mulai menurun seiring meningkatnya adopsi kendaraan elektrifikasi.

“Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat,” ujarnya.

Dari sisi pelaku industri, BYD Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 65 persen hingga Maret 2026 dengan pangsa pasar mencapai 41 persen. Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan, mengatakan perusahaan terus memperluas jaringan untuk mendukung pertumbuhan tersebut.

“Bisnis kami di Indonesia berbasis industri. Kami ingin bangun value chain. Dari sisi jaringan, kami kini memiliki 84 dealer di 48 kota,” katanya.

Sementara itu, CEO Degree Synergy International Andrea Suhendra menyebut meningkatnya jumlah model kendaraan listrik turut mendorong pertumbuhan pasar. Saat ini terdapat 74 model BEV di Indonesia, meningkat signifikan dibandingkan 2021 yang hanya 11 model.

Selain itu, harga kendaraan listrik yang semakin kompetitif juga menjadi faktor pendorong. Sejumlah model kini dipasarkan di kisaran Rp300 juta, sehingga semakin terjangkau bagi masyarakat.

Andrea memprediksi tren pertumbuhan kendaraan listrik akan terus berlanjut meskipun terdapat penyesuaian kebijakan pajak daerah. Menurut dia, biaya kepemilikan yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil tetap menjadi daya tarik utama bagi konsumen.

“PHEV layak diberi stimulus tambahan, tetapi bersyarat, karena bisa menjadi jembatan transisi untuk konsumen yang belum sepenuhnya siap ke BEV,” kata Andrea.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut