BGN Minta Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan dan Aslap Cek Ketat Bahan Baku sebelum Dimasak
PACITAN, iNews.id – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan para pengawas gizi, pengawas keuangan, dan asisten lapangan (Aslap) bekerja sama mengecek bahan baku saat datang, serta bahan makanan yang akan dimasak di dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) dengan teliti.
Menurutnya, ketelitian ekstra harus dilakukan untuk mencegah terjadinya insiden keamanan pangan dari awal.
“Jika sejak awal sudah terlihat tanda-tanda bahan tidak layak, seperti ayam yang tidak sehat, sayuran yang tidak segar, atau tahu yang kualitasnya buruk, segera kembalikan kepada mitra,” kata Nanik saat memberikan pengarahan langsung dalam acara Koordinasi dan Evaluasi untuk para Ahli Gizi Akuntan, dan Chef se-Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek pada akhir pekan Februari 2026 kemarin.
Nanik juga memerintahkan kepada para Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan untuk menolak intervensi yang sering dilakukan mitra SPPG ke dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Apalagi jika mereka dengan sembarangan mengubah-ubah menu yang sudah disusun Pengawas Gizi.
BGN Siapkan 4 Skema Penyaluran MBG saat Ramadan, Apa Saja?
“Laporkan kepada saya. Jika ada intervensi, dapurnya akan langsung saya tutup. Penyusunan menu tidak ada urusannya dengan mitra, apalagi sampai mengubah menu yang sudah disusun oleh Ahli Gizi. Jika ada yang berani mengubah, akan saya suspend,” kata Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu dengan tegas.
BGN Pastikan MBG Tetap Jalan saat Ramadhan, Siapkan 4 Skema Penyaluran
Padahal, kata Nanik, intervensi para mitra ke dapur dengan menganggap para pengelola dapur MBG masih junior, belum berpengalaman, dan tidak tahu harga pangan, hanyalah dalih.
“Ini yang menjadi awal terjadinya keracunan, karena pemilihan bahan baku yang tidak sesuai,” ujarnya pula.
Para pengawas gizi dan jurutama masak juga harus mengerti cara menangani bahan, dan memahami petunjuk teknis pemakaian alat. Hal ini penting, agar tidak terjadi insiden keamanan pangan gara-gara ketidakfahaman mereka dalam cara menangani bahan dan pemakaian alat.
Saat barang datang dan dicek kualitasnya, ayam misalnya, ahli gizi bisa menentukan apakah ayam itu langsung direbus, atau disimpan di dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat celsius.
Nanik menekankan pentingnya para pengawas gizi dan jurutama masak untuk benar-benar memahami petunjuk teknis pemakaian alat dan cara penanganan bahan makanan itu.
Situasi lebih menyedihkan terjadi di salah satu SPPG di Boyolali yang pekan lalu mengalami insiden keamanan pangan. Sebab, Mitra SPPG ternyata hanya menyediakan chiller bekas, dan kulkas bekas dalam kondisi bermasalah.
Karena itu Nanik berpesan kepada Chef yang lebih memahami kondisi alat, untuk memberitahu Kepala SPPG agar segera meminta alat pengganti kepada Mitra. Sebab, Mitra yang bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan dapur yang baru, dan berkualitas.
“Jika peralatan rusak atau tidak layak pakai, jangan dipaksakan. Sampaikan kepada Kepala SPPG untuk meminta penggantian. Kita menyewa, jadi jika alat rusak, mitra wajib mengganti dengan peralatan yang sesuai standar dan juknis yang ada. Jangan sampai seperti di Boyolali, semua peralatan dalam kondisi bekas dan bermasalah,,” kata Nanik.
Editor: Puti Aini Yasmin