BIN: Calon Prajurit TNI Harus Steril dari Ideologi selain Pancasila

Aditya Pratama ยท Sabtu, 10 Agustus 2019 - 12:31 WIB
BIN: Calon Prajurit TNI Harus Steril dari Ideologi selain Pancasila

Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto di acara Polemik Radio MNC Trijaya Network bertajuk, Enzo, Pemuda dan Kemerdekaan, di Jakarta Pusat, Sabtu (10/8/2019). (Foto: iNews.id/ Aditya Pratama).

JAKARTA, iNews.id - Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengingatkan, bahaya jika penyelenggara negara dan calon prajurit TNI tidak memegang teguh ideologi Pancasila. Penyelenggara negara dan calon prajurit TNI harus steril dari ideologi selain Pancasila.

Dia menilai mental ideologi negara sangat penting bagi penyelenggara negara serta aparat keamanan karena menyangkut kebijakan dan politik yang akan diambil ketika mereka memimpin.

"Mental ideologi tidak bisa menjadi pertaruhan. Ada aparat keamanan di Poso berbelok ideologi, lalu di Aceh juga ada seperti itu dan dipecat," ujar Wawan di acara Polemik Radio MNC Trijaya Network bertajuk, Enzo, Pemuda dan Kemerdekaan, di Jakarta Pusat, Sabtu (10/8/2019).

Menurutnya, Pancasila dan NKRI harus menjadi pegangan utama bagi semua warga negara untuk mencegah munculnya perpecahan bangsa. Sementara terkait persoalan Enzo, dia menyerahkan kepada Tim Panitia Seleksi Taruna Akademi Militer (Akmil) untuk mengklarifikasinya.

"Seorang punya cita-cita oke saja, namun semua pihak harus pahami bahwa untuk seorang penyelenggara negara dan aparat keamanan harus steril dari ideologi yang berbeda karena sangat rentan," ucapnya.

Enzo Allie, Taruna Akademi Militer ramai oleh warganet setelah rekaman video percakapannya dengan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjajanto viral di media sosial. Saat itu Enzo dan Panglima TNI berbicara dalam bahasa Prancis.

Enzo menjadi sorotan karena latar belakangnya dicurigai terkait organisasi Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Enzo merupakan keturunan Prancis, anak dari pasangan almarhum Jeans Paul Francois Allie warga negara Perancis dan Siti Hajah Tilaria warga negara Indonesia asal Sumatera Utara.

Editor : Kurnia Illahi