BMKG Tepis Banjir Bandang di Luwu Utara akibat Pengaruh Gempa Bumi
JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meluruskan informasi yang beredar di masyarakat bahwa banjir bandang yang menerjang Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pada 13 Juli lalu dipengaruhi gempa bumi yang belakangan kerap mengguncang daerah itu.
Guncangan gempa memengaruhi kestabilan tanah yang memicu longsoran dan banjir.
Berdasarkan catatan BMKG, sebagaimana isi pernyataan yang dirilis Kamis (23/7/2020), Kabupaten Luwu Utara beberapa kali mengalami gempa yang dirasakan getarannya, yakni pada 8 April 2020 dengan magnitudo 5 dan dirasakan II MMI, 11 April 2020 dengan M4,2 dan dirasakan II MMI, serta pada 13 Juni 2020 dengan M4,2 dan dirasakan II MMI.
Skala intensitas II sampai III MMI masih dalam kategori getaran ringan seperti saat truk melintas. Getaran gempa tersebut belum cukup mampu memicu terjadinya longsoran.
Selain itu hasil pemantauan BMKG menjelang terjadinya banjir bandang, tidak ada aktivitas gempa tektonik di Kabupaten Luwu Utara. Dengan demikian banjir bandang tidak ada kaitannya dengan longsoran yang diakibatkan gempa.
Di sisi lain, pengukuran hujan dan estimasi dari satelit cuaca memperlihatkan, salah satu penyebab banjir bandang di Luwu Utara adalah akumulasi curah hujan yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan mengguyur daerah Masamba dan sekitarnya, terutama di perbukitan sebelah utara dan timur laut.
"Untuk mengetahui penyebab banjir bandang sesungguhnya, diperlukan kajian komprehensif berdasarkan data lapangan, khususnya kondisi daerah aliran sungai dan lahan di wilayah hulu, apakah terjadi penggundulan hutan atau konversi lahan yang dapat memicu terjadinya peningkatan aliran permukaan sehingga memicu terjadinya banjir bandang," bunyi pernyataan.
Data korban sementara, sebanyak 1.543 orang ditemukan selamat dan 38 orang meninggal dunia. Sebanyak 10 lainnya masih hilang.
Berdasarkan data BPBD, sebanyak 14.438 jiwa dari total 3.627 kepala keluarga (KK) mengungsi. Sebanyak 4.202 rumah, sembilan sekolah, dan 13 rumah ibadah, rusak diterjang banjir.
Editor: Anton Suhartono