BNPB Beri Penghormatan Terakhir 2 Prajurit TNI Gugur saat Padamkan Karhutla
JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan penghormatan terakhir kepada prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Kepala BNPB Letjen Kristomei Sianturi hadir langsung dalam upacara pemakaman Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar dan Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan mengatakan, kehadiran Kepala BNPB menjadi bentuk penghormatan atas pengabdian para prajurit yang gugur saat menjalankan tugas negara.
"Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan BNPB kepada personel yang kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas melindungi masyarakat dan lingkungan," kata Berton, Jumat (6/11/2026).
Berton mengatakan, penghormatan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi atas keberanian dan pengorbanan prajurit dalam menjalankan misi kemanusiaan. BNPB turut menyampaikan doa serta dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Pengabdian tersebut menjadi pengingat untuk terus menjaga keselamatan personel yang berada di garis depan penanggulangan bencana. Doa bagi para almarhum dan dukungan moral kepada keluarga menyertai penghormatan atas jasa mereka," katanya.
Sebelumnya, helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat (AD) mengalami kecelakaan saat menjalankan misi pemadaman karhutla di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu 4 November 2026.
Helikopter dengan nomor registrasi HA-5235 tersebut membawa delapan personel dari Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad).
Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan, helikopter bertolak dari Kuala Pembuang menuju Telaga Pulang pada pukul 09.55 WIB untuk mendukung operasi pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Namun, sekitar pukul 11.18 WIB, helikopter mengalami kecelakaan saat mengambil air di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan.
Pengambilan air tersebut merupakan bagian dari operasi water bombing, yakni metode pemadaman kebakaran dari udara dengan menjatuhkan air menggunakan helikopter.
TNI AD bersama tim gabungan kemudian mengerahkan personel untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban melalui jalur udara dan laut.
Dalam perkembangan selanjutnya, tiga personel dinyatakan meninggal dunia, sedangkan lima personel lainnya selamat dan menjalani perawatan medis.
Editor: Donald Karouw