BNPB Catat Masih Ada 96,07 Hektare Lahan Terbakar di 6 Provinsi
JAKARTA, iNews.id - Luas lahan yang masih terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas mencapai 96,07 hektare per 28 September 2026. Angka ini turun 62,29 hektare dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 158,36 hektare.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan total luas lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 527,6 hektare. Dari total tersebut, 431,53 hektare sudah berhasil dipadamkan melalui operasi darat dan udara.
“Berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi pada 28 September 2026, total luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas tercatat mencapai 527,6 hektare, dengan 431,53 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan melalui operasi darat seluas 369,03 hektare dan operasi udara 62,5 hektare,” kata Berton dalam konferensi pers perkembangan penanganan karhutla di Kemenko Polkam RI, dikutip Rabu (30/9/2026).
“Sementara itu, luas lahan yang masih belum padam tercatat 96,07 hektare,” ujar Berton.
Penurunan sisa lahan terbakar paling besar tercatat di Kalimantan Tengah dengan 46,70 hektare, disusul Kalimantan Selatan 17,74 hektare, Jambi 1,50 hektare, dan Kalimantan Barat 1 hektare.
Sebaliknya, sisa lahan yang belum padam bertambah di Sumatera Selatan sebesar 4,15 hektare dan Riau 0,5 hektare.
BNPB mengerahkan personel Satuan Tugas (Satgas) darat di enam provinsi prioritas. Rinciannya, Riau sebanyak 14.837 personel, Kalimantan Selatan 7.927 personel, Sumatera Selatan 11.026 personel, Kalimantan Tengah 4.686 personel, Jambi 5.984 personel, dan Kalimantan Barat 14.575 personel.
Penanganan karhutla juga diperkuat melalui operasi udara berupa patroli, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan water bombing.
Total terdapat 56 unit armada udara yang digunakan, terdiri atas 13 unit patroli/OMC dan 43 unit water bombing.
Berton mengatakan penanganan karhutla di sejumlah wilayah masih menghadapi sejumlah kendala. Kondisi tersebut terutama terjadi pada kebakaran lahan gambut, keterbatasan akses dan sumber air, angin kencang, hingga kabut asap.
“Dalam pelaksanaannya, penanganan karhutla di Kalimantan menghadapi sejumlah kendala, antara lain kebakaran pada lahan gambut, keterbatasan akses dan sumber air, angin kencang, serta kabut asap yang menurunkan jarak pandang dan membatasi patroli udara maupun pelaksanaan water bombing,” ujarnya.
Sementara di wilayah Sumatera, kendala yang dihadapi mencakup kondisi lahan kering dan gambut, keterbatasan sumber air, kesulitan menjangkau kepala api, perubahan arah angin, serta kesiapan sebagian armada water bombing.
BNPB terus melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, dan pendinginan lahan, termasuk area gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan.
Editor: Puti Aini Yasmin