Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Wakapolri Ingatkan Ancaman Teror Modern di Era Digital, Semakin Cair dan Sulit Dipetakan
Advertisement . Scroll to see content

BNPT Diminta Waspadai Kelas-Kelas Online Radikalisme

Sabtu, 27 Juni 2020 - 06:40:00 WIB
BNPT Diminta Waspadai Kelas-Kelas Online Radikalisme
Ilustrasi radikalisme. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diminta mengawasi pergerakan kelompok radikal di media online sebagai upaya pencegahan penyebaran paham radikal terorisme. Hal itu tidak lain karena pesatnya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan setiap orang melakukan komunikasi dan menyebarkan informasi.

Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Khariri Makmun mengatakan, pengawasan itu untuk mewaspadai adanya kelas-kelas online radikalisme yang tumbuh di masa teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini.

"Sekarang dengan adanya aplikasi seperti zoom, mereka bisa saja membuat kelas-kelas online untuk menyebarkan pemahaman mereka dan saya kira itu perlu diwaspadai juga oleh BNPT," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (27/6/2020) malam.

Menurut Alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini, dulu kelompok-kelompok radikal belajar lewat internet masih sendiri melalui google, maka kini sudah dapat menggunakan guru melalui kelas online. Jika sebelumnya didoktrin melalui tulisan, namun sekarang didoktrin melalui pengajaran jarak jauh.

"Itu tentunya selangkah lebih maju. Jadi perlu kita waspadai munculnya generasi kelompok radikal yang hasil dari didikan doktrinasi jarak jauh melalui kelas online itu," ujar Makmun.

Sementara itu, pria yang meraih gelar Master dari Universitas Ulum Islamiyah Wal Arabiyah Damaskus, Suriah ini pun menyampaikan perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda agama atau berbeda paham. Dengan berpikir moderat, akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda.

"Kalau mereka yang radikal itu dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia sehingga siapapun yang berbeda dengan dia dianggap sesat," ucap Makmun.

Direktur Rahmi (Rahmatan Lil Alamin) Center ini juga mendorong pemerintah untuk terus mengerahkan upaya lebih dalam mencegah penyebaran paham radikal terorisme di tengah kemajuan teknologi. Menurut mantan Rais Syuriah NU di Jepang, jika seseorang memahami agamanya dengan baik, secara otomatis akan bisa menerima Pancasila dengan benar karena nilai-nilai Pancasila selaras dengan ajaran Islam.

"Yang terjadi sekarang kan dalam memahami ajaran agama saja mereka banyak memiliki permasalahan dalam memahaminya sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada miss, ada sesuatu yang hilang dari pemahaman mereka. Inilah kemudian yang memunculkan bibit intoleransi, radikalisme seperti yang terjadi sekarang ini," tuturnya.

Itulah kenapa menurut Khariri, agama dan Pancasila ini selalu dibenturkan. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman keagamaan. Untuk itu perlu bagi para tokoh agama atau para ulama-ulama moderat untuk memberikan pemahaman yang benar.

Editor: Djibril Muhammad

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut