Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Cegah Pemadaman Bergilir, PLN Dapat Tambahan Batu Bara 3 Juta Ton per Bulan
Advertisement . Scroll to see content

Bos PLN Ungkap Harga Listrik PLTS Bisa Lebih Mahal gegara Hal Ini

Jumat, 03 Juli 2026 - 09:02:00 WIB
Bos PLN Ungkap Harga Listrik PLTS Bisa Lebih Mahal gegara Hal Ini
Tarif listrik PLTS bisa lebih mahal daripada yang biasa karena hal ini. (Foto: iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Direktur Utama PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengungkapkan harga listrik yang dihasilkan lewat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menggunakan sistem Battery Energy Storage System (BESS) bisa lebih mahal dibanding lainnya. Hal itu karena terdapat biaya pembebasan lahan.

Menurut Darmawan, membangun proyek tersebut membutuhkan biaya yang besar. Bahkan jika harga tanah Rp200.000 per meter, maka harga listriknya naik 1 sen per kwh. Maka, semakin mahal harga lahan kenaikan harga listriknya juga bakal lebih tinggi. 

"Kami mengakui bahwa penggunaan PLTS dengan sistem BESS (Batery Energi Storage System) ini sangat sensitif dengan lahan. Jadi kalau harga lahan Rp600.000 per meter, maka harganya naik 3 sen per kwh," ujarnya dalam RDP Bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7/2026).

Darmawan mengatakan hal ini akan menjadi tantangan untuk mengimplementasikan target pemerintah membangun PLTS dengan kapasitas 100 GW. Sehingga diperlukan dukungan pembebasan lahan untuk menjaga harga listrik sesuai dengan keekonomian masyarakat. 

"Khusus program ini, karena tanah sudah disediakan pemerintah, tentu saja ini membuat menjadikan program PLTS ini menjadi program yang secara ke ekonomian menjadi sangat kompetitif," tambahnya. 

Pada kesempatan itu, Darmawan juga memaparkan roadmap untuk memperkuat sistem kelistrikan di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (JAMALI) dengan target ambisius meningkatkan daya mampu pasok dari 35,9 GW saat ini, menjadi 55 GW pada tahun 2030. 

Langkah awal dimulai pada tahun 2026 dengan penambahan kapasitas sebesar 5 GW yang difokuskan pada pemenuhan 15 juta MT batu bara kalori menengah (4500–5200 kcal/kg). Upaya ini bertujuan untuk memastikan stabilitas pasokan energi primer sebagai fondasi penguatan sistem sebelum beralih ke integrasi energi terbarukan yang lebih masif di tahun-tahun berikutnya.

Memasuki periode 2027 hingga 2028, fokus pengembangan bergeser secara signifikan pada pemanfaatan teknologi penyimpanan energi dan energi surya dengan total tambahan kapasitas masing-masing sebesar 4,6 GW dan 4,4 GW. Pada fase ini, PLN mengandalkan optimalisasi Battery Energy Storage System (BESS) serta pembangunan PLTS, termasuk proyek PLTS Terapung di waduk-waduk negara. 

Pada tahap ini, targetnya mengeliminasi penggunaan BBM di sistem Bali dan Madura yang digantikan oleh kombinasi BESS dan PLTS, sejalan dengan upaya pengurangan impor bahan bakar fosil dan penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik.

Pada fase akhir menuju tahun 2030, PLN memprioritaskan percepatan penyelesaian berbagai pembangkit besar baru di sistem Jawa dengan tambahan kapasitas sebesar 2,7 GW di tahun 2029 dan 2,4 GW di tahun 2030. 

Secara keseluruhan, total penambahan kapasitas sebesar 19,1 GW selama periode ini merupakan bagian dari implementasi 'Fat Burning Program' dan tahap pertama dari target PLTS 100 GW sesuai dengan arahan Presiden Prabowo.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut