Cerita Tito Perintahkan Cari Dokumen Demi Buktikan 4 Pulau Sengketa Milik Aceh: Bongkar Apa Pun!
JAKARTA, iNews.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menceritakan momen pihaknya mencari dokumen untuk membuktikan 4 pulau sengketa antara Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) merupakan sah milik Aceh. Ia bahkan meminta untuk bongkar apa pun.
Menurut Tito, untuk mendukung 4 pulau sengketa masuk wilayah Aceh ada dokumen yang kesepakatan yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh dan Gubernur Sumut, serta disaksikan oleh Mendagri pada tahun 1992 terkait pulau masuk provinsi Aceh.
Namun, dokumen tersebut hanya berbentuk fotokopian sehingga dinilai tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat. Untuk itu, ia meminta agar Kemendagri mencari dokumen tersebut demi memastikan 4 pulau tersebut merupakan milik Aceh.
"Saya perintahkan bongkar apa pun juga, apa pun juga yang berkaitan dengan status 4 pulau ini agar dicari," katanya dalam konferensi pers, Selasa (17/6/2025).
Pihaknya pun justru menemukan dokumen penting terkait surat keputusan bahwa batas wilayah Aceh dan Sumut berdasarkan peta topografi milik TNI AD tahun 1978, yang mana 4 pulau masuk wilayah Aceh.
"Alhamdulilah kemarin dipimpin Pak Sekjen kami punya pusat arsip Pondok Kelapa Jakarta Timur, dibongkar dan dokumen asli yang disaksikan 2 gubernur tidak ketemu, tapi yang ketemu keputusan menteri dalam negeri Nomor 11 Tahun 1992 ini tanggal 24 November 1992," ucapnya.
"Dokumen ini kenapa penting? Dokumen ini menunjukkan bahwa adanya pengakuan atau endorse bahwa kesepakatan 2 gubernur di tahun 1992 yang fotokopian tadi benar, jadi legalisasi kesepakatan itu terjadi," tutur dia melanjutkan.
Adapun, berdasarkan peta topografi TNI AD 1978 diperlihatkan bahwa 4 pulau, yakni Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek masuk wilayah Aceh dan bukan masuk wilayah Sumut.
"Kalau kita lihat di situ ada titik garis di darat dan laut ada juga garis titik-titik dan ini menjadi dasar bagi kita bahwa 4 pulau tersebut itu tidak masuk wilayah Sumut dan masuknya Aceh," ucap Tito.
Editor: Puti Aini Yasmin