Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gempa M 7,1 Guncang Talaud Sulut, BNPB: Belum Ada Laporan Korban Jiwa
Advertisement . Scroll to see content

Daftar Gunung Berapi di Cincin Api Pasifik

Senin, 04 April 2022 - 20:27:00 WIB
Daftar Gunung Berapi di Cincin Api Pasifik
Gunung Agung di Bali dan gunung-gunung di Indonesia termasuk dalam Cincin Api Pasifik. (Foto: Pos Pengamatan Gunung Agung)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Jika bertanya-tanya kenapa Indonesia sering mengalami bencana alam seperti letusan gunung atau gempa bumi, jawabannya karena Nusantara berada di dalam wilayah Cincin Api Pasifik. Dikutip dari berbagai sumber, Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire merujuk pada jalur di sepanjang Samudra Pasifik yang dipenuhi oleh gunung berapi aktif dan pergeseran lempeng bumi yang kerap terjadi.

Memiliki panjang sekitar 40.000 kilometer, wilayah ini membentang dari beberapa lempengan mulai dari Eurasia, Juan de Fuca, Cocos, India, Australia, Nazca, Amerika Utara, dan Karibia, Antartika hingga Lempeng Filipina. Wilayah ini juga melintasi beberapa negara, Indonesia salah satunya. Dikatakan 75 persen gunung berapi dan 90 persen gempa di bumi berlokasi di sepanjang Cincin Api ini.

Berikut ini beberapa daftar gunung berapi di jalur Cincin Api, dihimpun dari berbagai sumber:

1. Gunung Agung, Bali, Indonesia

Gunung Agung berada di Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, menjadi salah satu gunung api tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3142 mdpl. Gunung ini memiliki kawah di tengah puncak yang masih aktif mengeluarkan uap air dan asap. 

Gunung Agung juga menjadi destinasi favorit untuk melakukan pendakian. Warga setempat menganggap Gunung Agung sebagai tempat yang sakral. Meskipun begitu, Gunung Agung tetaplah gunung api yang pernah meletus dengan dahsyat sepanjang catatan sejarah.

Tercatat pada 17 Maret 1963, Gunung Agung mengeluarkan letusan eksplosif yang ketinggiannya mencapai lebih dari 20 kilometer. Bahkan letusannya sampai menurunkan suhu global antara 0,1 hingga 0,4 derajat Celcius. 

Sekitar 1.600 orang meninggal, puluhan desa luluh-lantah, dan puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. Erupsi di Gunung Agung juga pernah terjadi lagi pada November 2017 dengan jumlah pengungsi tercatat mencapai 10.950 jiwa.

2. Gunung Mayon, Luzon, Filipina

Mayon merupakan salah satu gunung berapi teraktif di Filipina dengan bentuk kerucut yang sempurna. Simetri gunung yang indah membuat Mayon kerap dikunjungi wisatawan dan para pendaki. Namun, gunung ini pernah mencapai puncak eksplosifnya.

Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (PHIVOLCS) menyebut Gunung Mayon telah meletus selama 51 kali mulai dari 1616 hingga 2014. Bahkan di tahun 1814, letusannya menewaskan sebanyak 1.200 orang.

Letusan lainnya gunung ini terjadi pada awal tahun 2018. Sejak 28 hingga 29 Januari, Gunung Mayon menghasilkan gumpalan abu setinggi 3-5 km dengan aliran lahar mencapai 4,5 km yang menurun lemah ke sungai dari kawah puncak. Sebanyak lebih 75.000 warga dievakuasi.

3. Gunung Kadovar, Papua Nugini

Gunung Kadovar berada di lepas pantai Laut Bismark, Papua Nugini dengan panjang hingga 1.000 km. Tanda-tanda letusannya sudah terlihat pada 1976, di mana ada peningkatan aktivitas fumarolik hingga banyak penduduk yang dievakusi ke pulau terdekat.

Lalu, Gunung di Pulau Kadovar mengalami erupsi pada tahun 2018, memuntahkan abu intermiten dan gumpalan gas serta uap. Sebanyak 1.500 orang harus dievakuasi ke Pulau Blup Bup yang ada di sekitarnya. Saksi yang menyaksikan dari Pulau Blup Bup di utara Kadovar, menyatakan terdapat ledakan besar yang terjadi beserta cahaya merah menyala di puncak gunungnya.

Para ilmuwan mendeteksi adanya sulfur dioksida beracun dari gunung tersebut. Citra satelit menangkap gumpalan abu yang dari letusan Gunung Kadovar mencapai lebih dari puluhan kilometer.

4. Gunung Fuji, Jepang

Gunung Fuji merupakan statro volcano indah yang kerucutnya diselimuti salju dan dikelilingi oleh bunga sakura. Keindahannya membuat banyak orang lupa dengan fakta Gunung Fuji gunung berapi yang masih aktif.

Letusan eksplosif terjadi pada 16 Desember 1707 hingga 1 Januari 1708. Letusan ini disebut sebagai Letusan Hoei. Melepaskan 800 juta meter kubik abu vulkanik, abu ini lantas menyebar ke wilayah sekitar gunung, hingga sampai ke Edo yang berada 100 km jauhnya. 

Meskipun Smithsonian menyebutkan Gunung Fuji belum meletus lagi sejak tahun 1707, namun peneliti menyelidiki kemungkinan adanya potensi sebab terjadi gempa bumi Shizuoka 2011 yang titik pusatnya berada di gunung berapi.

5. Mauna Loa, Hawaii

Mauna Loa berarti “gunung panjang” karena terbentang sampai 120 km (74 mil) dengan ketinggian 17 km di atas permukaan laut. Besarnya Mauna Loa ini diyakini hampir mencapai 85 persen dari total luas Kepulauan Hawaii bila digabungkan.

Mauna Loa merupakan gunung api teraktif di bumi, letusannya sudah terjadi selama 33 kali dengan interval tiap tiga setengah tahun sekali. Letusan eksplosifnya pertama kali terjadi pada 25 Maret 1984 dan lebih sering memuntahkan lava yang membentuk sungai dan mengalir turun dari puncak.

Air mancur lava terbentuk hingga ketinggian 3.800 meter. Disusul keretakan yang meluas sejauh 6 km di celah timur laut, membentuk tirai api lain sepanjang 2 km, dan tinggi 50 meter pada ketinggian 3.450 meter. Kota Hilo yang berada dekat dengan Mauna Loa menjadi wilayah yang terancam dampak dari aliran lava tersebut.

Tercatat aliran lava Mauna Loa telah menuju pantai selatan dan barat pulau sebanyak delapan kali yakni pada tahun 1859, 1868, 1887, 1926, 1919, dan tiga kali pada tahun 1950. 

6. Gunung Galeras, Kolombia

Gunung Galeras hanya berjarak beberapa kilometer dari Kota Pasto. Gunung ini berada di barat daya Kolombia, dan menjadi gunung berapi paling aktif di Amerika Selatan.

Termasuk ke dalam lingkup Cincin Api Pasitik, Galeras telah meletus selama 4.500 tahun terakhir. Letusan Galeras ditandai dengan ledakan vulkanik, aliran piroklastik, dan sulfur dioksida.

Galeras juga memiliki potensi untuk melongsorkan puing-puing yang menyapu sisi kompleks vulkanik. Dikhawatirkan, longsor ini bisa berdampak pada Kota Pasto. 

Erupsi paling terkenal terjadi pada tahun 1993. Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh ahli geologi Stanley Williams beserta tiga turis melakukan perjalanan ke kawah Gunung Galeras setinggi 9.000 kaki pada 14 Januari 1993. 

Namun, tanpa mereka ketahui, gunung tersebut mengalami erupsi hebat. Hanya Williams dan enam orang saja yang selamat dari peristiwa tersebut, sementara 13 lainnya tewas.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut