Dampak Likuifaksi, 5.000 Orang Dilaporkan Hilang di Balaroa dan Petobo
JAKARTA, iNews.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan 5.000 orang hilang akibat likufaksi di Balaroa dan Petobo setelah gempa bumi mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hingga saat ini pendataan dan upaya pencarian korban terus dilakukan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, data tersebut didapatkan dari kepala desa Balaroa dan Petobo. Setelah gempa disusul tsunami menerjang Palu, sekitar 5.000 orang belum ditemukan.
”Balaora dan Petobo mengalami fenomena likuifaksi pada saat gempa 7,4 skala richter mengguncang Kota Palu dan sekitarnya pada 28 September yang lalu,” kata Sutopo dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Minggu (7/10/2018).

Dia menjelaskan, likuifaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa. Secara keseluruhan rumah yang rusak di Balaroa akibat fenomena itu mencapai 1.045 unit.
Ini Kata Pakar Geologi UGM soal Fenomena Tanah Bergerak di Sigi-Palu
”Sementara jumlah rumah yang terdampak likeufaksi di kawasan Petobo sebanyak 2.050 unit. Permukiman di sana tepat berada di jalur sesar gempa," kata pria yang hari ini berulang tahun ke 49 ini.

Kendati demikian, BNPB masih terus melakukan verifikasi mengenai jumlah korban yang hilang. Tidak menutup kemungkinan laporan itu keliru. "Karena bisa saja ada penduduk yang mengungsi ke daerah lain, namun dianggap hilang," ujarnya.
Tak hanya melakukan verifikasi data korban, Sutopo mengatakan timnya akan terus berupaya melakukan evakuasi di dua kawasan tersebut.
BNPB menargetkan upaya evakuasi dapat selesai pada 11 Oktober 2018. "Bila korban tak ditemukan maka akan dinyatakan hilang," ujarnya. Sementara itu mengenai korban meninggal, hingga saat ini mencapai 1.763 orang.
Editor: Zen Teguh