Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BMKG Ungkap Dentuman Misterius di Bandung Bukan dari Gempa, Ini Hasil Analisisnya
Advertisement . Scroll to see content

Dentuman Misterius Terdengar di Bandung, Benarkah dari Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Minggu, 06 September 2026 - 07:01:00 WIB
Dentuman Misterius Terdengar di Bandung, Benarkah dari Erupsi Gunung Anak Krakatau?
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau (dok. istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Suara dentuman misterius terdengar di Bandung Raya hingga sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten dan Lampung pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. Lalu, apa benar dentuman tersebut dari erupsi gunung Anak Krakatau?

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menjelaskan dalam ilmu meteorologi mengenal istilah inversi suhu yaitu tertindihnya lapisan udara dingin oleh lapisan udara yang lebih hangat di atmosfer. 

Lapisan udara ini terbentuk jika ada udara hangat naik ke atas lapisan udara yang lebih dingin, kemudian menyebar dan meluas di atmosfer. Adapun sumber panas tersebut dapat berasal dari aktivitas industri, kebakaran, lalu lintas, pelepasan panas penyinaran matahari yang diterima, radiasi permukan bumi dan lain-lain.

"Fenomena ini sebenarnya tidak lazim karena umumya tidak demikian, karena dalam kondisi normal suhu udara semakin tinggi mestinya makin dingin, sehingga fenomena terbentuknya lapisan inversi hanya dapat terjadi pada waktu tertentu selama syarat terbentuknya terpenuhi," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/9/2026).

Daryono mengatakan, udara panas dan gas yang sedang bergerak naik ke atmosfer, akan tertahan lapisan udara hangat ini, karena membentuk semacam tudung (inversion cap) yang menutupi kawasan dan menjebak gas dan panas yang naik dari bumi. 

"Contoh sederhana adalah saat kita sedang berada dekat kawasan industri terkadang mencium bau-bauan yang tidak sedap yang berlangsung lama pada kondisi cuaca tertentu. Ini karena gas atau polutan tidak dapat naik ke atmosfer dan terjebak di bawah lapisan inversi," katanya.

Lapisan inversi telah dikenal sebagai salah satu faktor yang menyebabkan bencana kabut asap di sejumlah negara. Daryono pun menceritakan peristiwa kabut asap yang parah pada tahun 1948 di Donora, Pennsylvania, (AS) dan pada tahun 1952 di London, Inggris, diakibatkan oleh peningkatan lapisan inversi di atmosfer. Bencana kabut asap London berlangsung selama seminggu dan menelan korban jiwa hingga 12.000 orang. 

"Akan tetapi gas dan partikulat polutan bukanlah satu-satunya yang disekap oleh lapisan inversi. Beberapa orang dilaporkan mendengar suara aneh selama terbentuknya lapisan inversi di atmosfer. Gelombang suara yang bersumber dari kereta api, mobil, petir, dan sumber suara lainnya dapat terpantul dari lapisan inversi sehingga terdengar di tempat lain. Hal ini terjadi karena lapisan inversi berperan sebagai pemantul kurang sempurna bagi gelombang akustik, gelombang radio dan bahkan cahaya," katanya.

Lapisan inversi, kata Daryono, juga dapat membuat suara lebih keras hingga terdengar di tempat sangat jauh. "Ibarat kita membunyikan klakson mobil di garasi yang tertutup, tentu lebih keras dibanding bunyi klakson di jalan raya. Ini karena suara terjebak pada ruang sempit," katanya.

Lapisan inversi membuat sumberbunyi tidak mampu menyebar ke atas atau menjalar semaunya ke segala arah, karena sudah terjebak dan hanya dapat menjalar ke permukaan bumi saja. Dalam hal ini suara/bunyi akan terdengar lebih keras dan dapat didengar hingga jauh di kawasan yang terlingkupi lapisan inversi. Suara petir ibarat merambat melalui sebuah kanal audio mirip tropospheric duct.

"Secara teori, suara adalah gelombang akustik yang sudah terbukti dapat dipantulkan lapisan inversi. Dalam kondisi inversi suhu, gelombang suara akan dibiaskan ke bawah, dan oleh karena itu dapat terdengar pada jarak yang sangat jauh," katanya.

Daryono kembali menegaskan bahwa inilah konsep dasar mengapa lapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar hingga jauh karena proses multi refleksi. Suara letusan jika sudah jauh dan dalam kondisi atmosfer tertentu dapat berubah 'anatominya' sehingga tidak lagi seperti suara petir asli di sumbernya, tetapi dapat mirip dentuman.

"Selain memantulkan gelombang akustik biasa, lapisan inversi juga berkemampuan memantulkan gelombang mekanik dan akustik ekstrim dalam bentuk gelombang kejut. Sehingga dapat menyebarkan suara dan efek getaran di wilayah yang lebih jauh," ujar Daryono.

Daryono menggungkapkan, topografi memainkan peran penting dalam mengembangkan dan menahan lapisan inversi. Udara dingin dapat terakumulasi di cekungan lembah atau dataran rendah di pantai pada kondisi cuaca tertentu. Sehingga daerah dengan morfologi semacam ini rentan terjadinya fenomena inversi di saat musim hujan. 

Salah satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang rentan terhadap terbentuknya lapisan inversi adalah daerah Bandung. Dengan topografi yang berbentuk cekungan yang dikelilingi pegunungan menjadikan kawasan ini rentan dilingkupi inversi suhu pada kondisi tertentu, yaitu ketika udara dingin terperangkap di lembah dan lapisan udara hangat menutupinya dari atas. 

"Pada saat Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, seolah terbentuk 'lorong raksasa'. Cukup dengan fenomena erupsi sangat aktif di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, maka dentuman GAK akan menjalar di sepanjang lembah dan terpantul berulang-ulang mirip terbentuknya gema seperti dilaporkan sebagian warga Bandung," kata Daryono.

"Demikian juga hal yang sama, suara dentuman yang beberapa kali terjadi di berbagai daerah, yang selama ini menjadi misteri, biang penyebabnya adalah keberadaan lapisan inversi di atmosfer kita," ujarnya.

Editor: Reza Fajri

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut