Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Badan Siber Nasional Soroti Keamanan Pemanfaatan AI
Advertisement . Scroll to see content

Dharma Pongrekun: Revolusi Industri 4.0 Adalah Rekayasa Kehidupan

Kamis, 19 September 2019 - 10:06:00 WIB
Dharma Pongrekun: Revolusi Industri 4.0 Adalah Rekayasa Kehidupan
Wakil Kepada Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol Dharma Pongrekun saat menjadi pembicara dalam seminar bertema "Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Dalam Menghadapi Revolusi 4.0" di UIN Syarief Hidayatullah, Senin, 16 September 2019. (Foto:
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Dunia kini tengah menatap Revolusi Industri 4.0, tidak terkecuali Indonesia. Meski begitu, perubahan tata kelola berdasarkan teknologi dan big data atau otomatisasi sistem produksi itu, bukan tanpa celah.

Wakil Kepada Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol Dharma Pongrekun, mengajak rakyat Indonesia, terutama kaum milenial, agar selalu berpegang pada jati diri sebagai mahluk ber-Ketuhanan. Hal itu penting untuk menghadapi dan mengantisipasi Revolusi Industri 4.0 yang penuh ketidakpastian.

"Revolusi industri sebetulnya adalah rekayasa kehidupan yang akan menjauhkan manusia dengan fitrahnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan," katanya dalam seminar bertema "Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Dalam Menghadapi Revolusi 4.0" yang diselenggarakan Dewan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarief Hidayatullah, Senin 16 September 2019.

Acara yang dihadiri 300-an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta ini juga menampilkan pembicara lain, yaitu advisor Pt Catira Cyril Raoul Hakim, CEO Akusara Group Muhammad Pradana Indraputra dan Tenaga ahli di Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi FX Rudi Gunawan.

Dalam paparannya Dharma menjelaskan, revolusi industri hanya satu dari agenda tersembunyi dari agenda besar globalisasi untuk merevolusi kehidupan manusia agar menjadi mahluk ateis atau tidak bertuhan. "Globalisasi tujuan akhirnya menjauhkan manusia dari Kemahakuasaan Tuhan, dengan cara merekayasa pola pikir manusia," katanya.

Menurut Dharma, globalisasi memiliki tiga program besar, yaitu money, power dan control. Program money, sudah sukses dengan bersatunya sistem ekonomi seluruh dunia. Program power, juga sudah sukses dengan masuknya sistem global ke dalam sistem dan struktur pemerintahan di seluruh dunia. Yang ketiga, program control, hampir 80 persen sudah terpenuhi.

"Globalisasi ujung-ujungnya merekayasa kehidupan manusia agar masuk ke dalam sistem ateis atau tidak bertuhan," katanya.

Dharma memaparkan, rekayasa kehidupan (life engineering) tersebut, dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) sejak dunia diciptakan. Di era modern, rekayasa kehidupan dilakukan melalui fase-fase revolusi industri, yang akhirnya bermuara pada bertemunya teknologi informasi dan teknologi komunikasi melalui internet sekitar 20-30 tahun lalu. Sejak itulah globalisasi menjadi gelombang yang sangat dahsyat yang sepertinya tidak bisa dihindari.

Milenial Bijak Berteknologi

Terkait hal itu, Dharma meminta kaum milenial dapat lebih bijak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Mengingat, teknologi didesain untuk memanipulasi mindset manusia, antara lain dengan cara rekayasa kecerdasan (intelligence engineering), rekayasa konflik (conflict engineering) dan rekayasa serangan (attack engineering).

"Kemajuan teknologi ini hanya pengalihan konsentrasi kita supaya kita tidak punya cukup waktu untuk mengingat Kemahakuasaan Tuhan," katanya.

Menurut Dharma, sekarang ini sarana TIK yang begitu masif dipakai manusia sehari-hari adalah smartphone. Alat ini memang didesain menyajikan kecepatan dan kemudahan sehingga diterima manusia secara luas.

Secara natural, manusia memang menyukai hal yang praktis sehingga alat ini diterima secara masif. Namun, di dalam alat disisipi aplikasi-aplikasi yang memiliki roh kemewahan, roh pornografi dan roh candu.

Wajar jika kemudian, alat ini membuat manusia bisa asyik berjam-jam, sampai lupa waktu salat. Padahal manusia bisa hidup karena roh dari Tuhan. Nah roh itulah yang coba diganggu melalui smartphone. "Dunia nyata Allah yang punya. Dunia maya, Allah yang punya juga," ujarnya.

Dharma menuturkan, pada akhirnya life engineering dengan mindset manipulation ini akan menghasilkan suatu pemahaman ateis - pada diri manusia. Di Eropa sudah banyak yang menjadi ateis dan scientolgy.

Negara-negara yang masih berdiri di atas Ketuhanan, seperti Indonesia, menurut dia, akan dihantam ekonomi oleh globalisasi karena mereka punya uang dan punya pasukan di mana-mana. "Yang dihantam center of gravity-nya yaitu ideologi bangsa," katanya.

Solusinya, menurut Dharma, rakyat Indonesia harus kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa, yaitu menjadi bangsa yang ber-Ketuhanan. "Kalau Sila Pertama Pancasila ini sudah kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, otomatis sila-sila berikutnya akan terwujud," ujarnya.

Pada bagian akhir, Dharma mengimbau kaum milenial menjadi orang pintar sehingga pada waktunya Indonesia memiliki Teknologi Industri Nasional yang diawaki anak-anak bangsa sendiri. Selain dapat memajukan ekonomi dalam negeri, hal ini juga dapat menjaga data keamanan seluruh bangsa Indonesia dan tidak tergantung dengan bangsa lain.

"Supaya kita tidak menjadi robot atau budak bangsa asing," katanya.

Editor: Djibril Muhammad

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut