Di Mahasiswa Bersuara, Sherly Annavita Ungkap Alasan Berani Bahas Isu Sensitif
JAKARTA, iNews.id - Gelaran iNews Campus Connect (ICC) 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar) pada Rabu (30/9/2026) kembali menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Salah satunya melalui program Mahasiswa Bersuara. Sesi ini dibuka dengan penampilan komika Igen Wahang.
Dalam kesempatan tersebut, Mahasiswa Bersuara menghadirkan kreator kontenSherly Annavita dan pendiri Mari Kita Bahas, Ahmad Alimuddin. Keduanya diajak membahas perjalanan mereka menyuarakan perspektif di ruang digital.
Dalam kesempatan tersebut, Sherly menceritakan bagaimana dia mulai menggunakan media sosial bukan hanya untuk membagikan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menyampaikan opini mengenai isu sosial, pendidikan, hingga politik.
Sherly mengatakan, perubahan itu mulai terjadi sekitar akhir 2018 hingga 2019. Saat itu, penggunaan media sosial menurutnya sudah mulai berkembang dibandingkan masa ketika platform digital lebih banyak digunakan untuk membagikan aktivitas pribadi.
“Awalnya Sherly mulai dari Instagram saat itu menyampaikan tentang aktivitas sehari-hari, kehidupan sehari-hari, pribadi, akhirnya mulai bergeser menjadi menyampaikan pendapat atau opini atau sudut pandang atas isu-isu sosial politik saat itu,” ucap Sherly.
Sherly memutuskan untuk membahas isu sensitif karena pengalamannya ketika melanjutkan pendidikan ke Australia selama dua tahun. Berada jauh dari Indonesia membuatnya merasa bisa melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Dari sana, dia bersama teman-teman diaspora Indonesia di Melbourne kemudian membuat platform bernama What Do You Think.
Platform itu menjadi ruang bagi orang-orang dari berbagai latar belakang, mulai dari psikologi, kesehatan, hingga sosial politik, untuk menyampaikan pandangan mengenai isu yang sedang terjadi di Indonesia berdasarkan bidang keilmuan masing-masing.
Sherly mengaku senang berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda. Namun, ketika diskusi tersebut dibawa ke ruang digital, ia menyadari adanya tantangan lain.
Menurutnya, pembahasan yang berlangsung selama delapan hingga 10 menit bisa dipotong menjadi klip satu atau dua menit dan kemudian beredar tanpa konteks lengkap.
“Ketika itu masuk ke dunia digital, ternyata itu menjadi sesuatu yang liar, bola liar. Artinya mungkin kita mem-posting-nya 8 menit atau 10 menit misalnya di satu platform, dan itu bisa menjadi hanya 1 atau 2 menit clip-clip-nya dan beredar, sehingga kita kehilangan konteks,” kata dia.
Meski menyadari risiko tersebut, Sherly akhirnya memilih untuk tetap membicarakan isu sosial dan politik. Keputusan itu diambil dari keresahan, bukan semata-mata karena keberanian.
“Kalau sosial, politik, pada akhirnya impact dari kebijakan itu kena ke kita semua,” ucapnya.
Salah satu momen yang kemudian membuatnya semakin aktif menyuarakan pandangan adalah Pemilihan Presiden 2019. Saat itu, Sherly melihat banyak perdebatan publik yang menurutnya memperlihatkan logika berpikir yang terbolak-balik maupun berbagai bentuk falasi.
Dia pun memilih menggunakan media sosial untuk menghadirkan sudut pandang lain. Namun, Sherly menegaskan bahwa menyampaikan perspektif bukan berarti mengharuskan publik mengikuti pandangannya.
“Ini butuh ada sudut pandang lain, nih. Kita butuh menghadirkan sudut pembandingnya sehingga mau nanti publik milihnya A, publik lain milihnya B, si kelompoknya milih C, that’s totally okay,” tuturnya.
Bagi Sherly, keberagaman pandangan merupakan bagian dari demokrasi. Karena itu, ia merasa anak muda perlu mendapatkan informasi dari berbagai perspektif sebelum membentuk pandangan sendiri.
Editor: Aditya Pratama