Doni Monardo Tegaskan Larangan Mudik Merupakan Kebijakan Tepat dan Strategis
JAKARTA, iNews.id - Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo menegaskan larangan mudik pada Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah merupakan kebijakan yang sangat tepat dan strategis. Seperti diketahui pemerintah melarang mudik pada 6-17 Mei 2021.
“Keputusan pemerintah untuk larangan mudik ini bukan hanya tepat tetapi sangat tepat, sangat tepat, sangat tepat,” ucap Doni dalam dialog secara virtual dari FMB9, Jakarta, Rabu (5/5/2021).
Doni pun berharap semua masyarakat mendukung kebijakan pemerintah ini. Menurutnya hal tersebut penting untuk mencegah penularan covid-19.
“Jadi pilihan untuk larang mudik ini adalah pilihan yang sangat strategis. Dan kita semuanya harus mengikuti keputusan ini,” kata Doni.
Kepala BNPB itu mengatakan keputusan mudik merupakan keputusan politik negara. Dia menegaskan semua pejabat harus satu narasi.
“Ini adalah keputusan politik negara. Kepala negara adalah Bapak Presiden Jokowi. Dan tidak boleh ada satupun pejabat pemerintah yang berbeda narasinya,” ucapnya.
Oleh karenanya, kata Doni, sosialisasi harus terus dilakukan. Dia mengatakan imbauan itu juga berlaku bagi pejabat di daerah.
“Kita harus melakukan hal ini adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat setiap saat, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Lebih baik hari ini kita lelah, kita dianggap cerewet daripada korban covid-19 berderet-deret. Karena sudah tidak ada lagi pilihan lain,” katanya.
Pasalnya, kata Doni, berkaca kepada perjalanan setahun lebih menghadapi covid-19, setiap libur panjang pasti akan diikuti dengan kenaikan kasus aktif. Kemudian akan diikuti dengan bertambahnya angka kematian.
“Mulai dari Idul Fitri tahun yang lalu, liburan Agustus, kemudian sampai dengan Natal dan Tahun Baru. Variasi angkanya antara 46 persen, untuk angka kematian sampai dengan 75 persen. Kemudian demikian juga untuk kasus aktifnya dari posisi sekitar 70 persen sampai dengan 100 persen, jadi tinggi sekali,” kata Doni.
Bahkan, kata Doni, setiap habis libur panjang diikuti dengan kenaikan kasus aktif. Bertambahnya jumlah pasien di rumah sakit, ruang perawatan ICU, isolasi lebih dari 80 persen.
“Bahkan pada periode bulan Januari awal tahun 2021 beberapa provinsi telah mencapai lebih dari 100 persen. Sehingga pasien harus dibawa ke luar provinsi. Lantas diikuti dengan angka kematian harian yang juga sangat tinggi, lebih dari 250 kematian per hari. Dan yang tampak lagi adalah para pahlawan-pahlawan pejuang kemanusiaan yaitu para dokter dan juga perawat juga menjadi korban karena merawat pasien,” tutur Doni.
Editor: Rizal Bomantama