Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : KIP Kabulkan Sebagian Gugatan Kelompok Bon Jowi Terkait Ijazah Jokowi di UGM
Advertisement . Scroll to see content

Dosen UGM Pastikan Rentetan Gempa Cianjur sampai Jember Tak Saling Berkaitan: Fenomena Alam

Kamis, 08 Desember 2022 - 10:54:00 WIB
Dosen UGM Pastikan Rentetan Gempa Cianjur sampai Jember Tak Saling Berkaitan: Fenomena Alam
Ilustrasi gempa. Menurut Pakar UGM, Gempa di Cianjur hingga Jember Tak Saling Terkait (Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pakar gempa sekaligus dosen Teknik Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyan memastikan gempa yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan, seperti yang terjadi di Cianjur, Garut hingga Jember tidak berkaitan. Ia mengatakan hal tersebut merupakan fenomena alam.

Seperti diketahhi, gempa terjadi di sejumlah daerah di Indonesia pascagempa di Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11). Terjadi gempa di Kabupaten Garut dengan pusat gempa berada di kedalaman 118 Km, 52 Km barat daya Garut.

Lalu diikuti gempa Bangkalan terjadi pada Minggu (4/12) malam. Kemudian Minggu (4/12) Kabupaten Gunung Kidul juga diguncang 4 kali gempa pada malam hari. Disusul gempa di hari Selasa (6/12) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan magnitudo 6,2 dan gempa-gempa lainnya.

Menurut Gayatri gempa di Cianjur pada (21/11) lalu tidak memicu gempa yang terjadi di wilayah lain di Indonesia. Gempa susulan di Cianjur hanya terkonsentrasi di sekitar daerah episenter dengan frekuensi dan magnitudo yang semakin mengecil.

Kemudian, gempa di Probolinggo, kata Gayatri, terkait dengan aktivitas sesar aktif Probolinggo yang berada di darat. Sementara, gempa Garut berkaitan dengan proses subduksi.

“Gempa Garut tersebut terjadi pada zona intraplate lempeng Indo-Australia yang menyusup di bawah pulau Jawa. Sementara itu, gempa di Jatim berada pada zona prisma akresi di zona subduksi Jawa bagian timur," kata dia dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (8/12/2022).

Melihat dari jenis kegempaan dan lokasi sumber gempanya, Gayatri memastikan gempa-gempa tersebut tidak berkaitan satu sama lain. Wilayah di sepanjang zona subduksi, seperti sepanjang lepas pantai Barat Sumatra sampai Lombok memang berada pada daerah tektonik aktif sehingga banyaknya gempa bumi di sekitar wilayah ini sebagai sesuatu yang wajar.

“Gempa yang terjadi adalah fenomena alam yang terjadi akibat pelepasan energi ketika tubuh batuan kerak bumi retak, patah, dan bergerak akibat tekanan yang berasal dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik di bumi," tutur dia.

Gayatri juga menilai wilayah Indonesia terdapat banyak lempeng-lempeng tektonik yang saling bertabrakan, antara lain lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, Filipina dan beberapa lempeng lainnya. Lempeng-lempeng ini bergerak dengan kecepatan sekitar 4-7 cm per tahun.

Akibatnya, pada batas-batas tumbukan lempeng ini, energi dari pergerakan tersebut terakumulasi. Sehingga, terjadi retakan dan pergerakan patahan yang disertai dengan peristiwa gempa bumi.

Oleh karena itu, Gayatri mengatakan rentetan gempa yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia ini merupakan fenomena alam. Jika diamati maka gempa di wilayah Indonesia setiap hari pasti terjadi, terutama gempa-gempa bermagnitudo kecil (M2-3).

Sedangkan untuk gempa menengah (M4-5) frekuensi kejadian harian juga cukup besar, sedangkan gempa besar (>M5) hampir setiap tahun terjadi di wilayah Indonesia.

“Hanya tidak selalu menimbulkan kerusakan sehingga tidak selalu menjadi perhatian. Adanya peristiwa yang dianggap rentetan oleh masyarakat sebenarnya lebih terkait kepada perhatian masyarakat yang meningkat terhadap kejadian gempa sesudah terjadinya gempa merusak di Cianjur belum lama ini," ujar dia.

Sementara itu, iaberpesan kepada masyarakat agar tidak perlu merasa was-was berlebihan. Fenomena kejadian gempa yang seolah-olah meningkat akhir-akhir ini terjadi lebih dikarenakan kecepatan pertukaran informasi dan perhatian masyarakat yang meningkat pascaterpicu kejadian gempa merusak yang menimbulkan korban jiwa belum lama ini di Cianjur.

Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk selalu menyadari bila sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah rawan gempa bumi. Masyarakat diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan sehingga semuanya akan lebih siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.

“Literasi terhadap kondisi geologi di sekitar area tempat tinggal dan beraktivitas juga perlu ditingkatkan dengan mencoba memahami betul prosedur dan jalur evakuasi di mana pun berada," tutup dia.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut