Dosen Unesa Beberkan Bahaya Pacaran Virtual di Kalangan Anak Muda, Ini Katanya
JAKARTA, iNews.id - Pacaran virtual saat ini tengah banyak digandrungi anak muda selaras dengan munculnya aplikasi dating online. Namun ternyata fenomena tersebut memiliki beberapa risiko.
Menurut Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, Putri Aisyiyah Rachma Dewi seiring berkembangnya teknologi komunikasi, segala kebutuhan mudah terpenuhi di ruang-ruang virtual, tidak terkecuali pacaran.
Pacaran virtual, kata Putri, dapat diartikan sebagai hubungan yang terjalin di dunia maya tanpa adanya pertemuan di dunia nyata. Bisa juga, hubungan yang terjalin dengan lebih banyak melakukan komunikasi-interaksi secara maya ketimbang pertemuan langsung di ruang nyata.
Bentuk komunikasi dalam hubungan model ini bisa melalui chat, bisa panggilan telepon atau video call. Ada beberapa alasan yang mendorong orang lebih memilih pacaran virtual, misalnya karena merasa lebih nyaman.
Rasa nyaman ini disebabkan karena konsep diri yang merasa kurang di lingkungannya. Di ranah virtual, orang bisa lebih leluasa menciptakan karakter dirinya sesuai yang diinginkan lewat berbagai fasilitas yang memang dibuat untuk itu seperti filter wajah dan sebagainya.
Mereka, lanjut Putri, juga bisa memilih lingkungan yang sefrekuensi atau yang sesuai dengan minat-hobinya. Apalagi, di lingkungan virtualnya itu mereka bisa nonton atau game bareng tanpa harus ditanya kapan nikah, kapan wisuda, kapan kerja.
Pacaran virtual ini memang ada yang sampai ke pelaminan dan itu baik-baik saja. Namun, ada juga kasus yang justru sebaliknya.
"Kalau kita kembali ke pola perilaku berpacaran baik itu langsung atau virtual tetap memiliki risiko yang perlu dipikirkan dan dipertimbangkan baik-baik," ucap wanita sekaligus peneliti bidang Gender dan Anak ini dikutip Kamis (8/6/2023).
Masalahnya, Putri menyoroti kasus pacaran virtual memiliki risiko, seperti jejak digital yang justru membahayakan. Selain itu, pacaran virtual juga berisiko munculnya tindakan kekerasan seksual.
Bahkan, PKKS Unesa punya pengalaman menerima beberapa klien yang mengeluhkan jejak digital yang masih tertinggal di pasangan mereka. Itu jadi beban buat perempuan di banyak kasus, foto atau videonya dijadikan alat pemerasan atau untuk perilaku paksaan (ancaman) lainnya.
Editor: Puti Aini Yasmin