Dulu Berang soal Lobster, Susi Pudjiastuti Kini Kasih Jempol ke Fahri Hamzah
JAKARTA, iNews.id – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pernah senewen dengan Fahri Hamzah gara-gara lobster. Namun Susi kini justru mendukung Fahri. Kok bisa?
Semua itu terjadi di Twitter. Untuk diketahui, dua figur publik ini termasuk aktif di media sosial. Mereka kerap menyampaikan pendapatnya untuk merespons isu-isu terkini.
Seperti dilakukan Fahri. Politikus kelahiran Utan, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat itu kembali berkicau tentang kemandirian pangan di Indonesia. Dirinya berharap Indonesia tak lagi impor berbagai barang.

"Tapi, mimpi kami di dalam negeri ini kan sebenarnya menghentikan import. Pengen-nya sih jangan lagi import HP, TV, laptop, senjata, pesawat...mobil, teknologi, dll,...tapi belum bisa. Ya gapapa. Tapi jangan import beras, garam dan kedelai dong. Bikin malu aja,” kata Fahri, Jumat (9/4/2021).
Cuitan ini ternyata mendapat tanggapan dari Susi. Pemilik maskapai penerbangan Susi Air itu merespons, bukan dengan kata-kata tetapi dengan emoji.
Tak tanggung-tanggung, Susi memberikan ikon tanda jempol sampai 10 untuk cuitan tersebut. Hal ini sebenarnya tak mengherankan lantaran Susi beberapa kali mencuitkan pandangannya soal urgensi impor.

Tanda jempol dari Susi untuk Fahri menyita perhatian netizen. Maklum Susi pernah berang dan menegur mantan anggota DPR tersebut gara-gara lobster.
Suatu saat Fahri mengunggah gambar sedang memegang lobster berukuran jumbo. Dalam cuitannya, dia mencolek akun Susi.
“Apa kabar bus @susipudjiastuti sehat selalu... ini bukan baby lobster tapi lobster sebesar baby...(berat: 5,1 Kg),” katanya, seraya menambahkan emoji tertawa. Cuitan ini diunggah pada 9 Maret lalu.

Tahu di-mention, Susi pun membalas. Dia menegur Fahri karena seharusnya lobster tersebut tak ditangkap.
“Seharusnya tidak ditangkap karena itu adalah infuk (induk) yang pasti sangat produktif,” katanya.
“Semakin lobster itu besar semakin produktif dia sebagai induk Australia hanya boleh tangkap yang ukuran 1 pound= 454 gram sampai dengan 800 gram/per ekor; bahkan kalau tidak salah cuma jantan saja yg boleh. Indonesia Bibitnya yang baru 2 gram/ ekor & induknya yang paling gede pun ditangkap,” ujarnya.
Editor: Zen Teguh