Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud, Begini Reaksi Muhadjir

Antara ยท Kamis, 10 Oktober 2019 - 17:06 WIB
Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud, Begini Reaksi Muhadjir

Mendikbud Muhadjir Effendy tak mempersoalkan penolakan sastrawan Eka Kurniawan atas penghargaan yang diberikan instansinya. (Foto: iNews.id/Dok.)

JAKARTA, iNews.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, tidak mempermasalahkan sastrawan Eka Kurniawan menolak penghargaan Maestro Seni dan Tradisi yang diberikan oleh instansinya. Menurut dia, adalah hak dari yang bersangkutan untuk menerima atau menolak penghargaan itu.

“Itu kan tidak wajib. Jadi, kalau ditolak tidak apa-apa,” ujar Muhadjir di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Dia menuturkan, penghargaan Maestro Seni dan Tradisi sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun terakhir. Tujuannya adalah untuk memberikan apresiasi kepada para seniman yang ahli di bidangnya. “Kami terus memberikan perhatian pada seniman, budayawan maupun sastrawan, namun tidak bisa langsung besar-besaran,” kata dia.

Dari segi dana, menurut Muhadjir, Kemendikbud sudah menganggarkan dana abadi kebudayaan, yang targetnya mencapai Rp10 triliun dalam waktu lima tahun. Dia berharap dana abadi kebudayaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kapasitas para seniman maupun kegiatan kebudayaan lainnya.

“Saya sangat menghormati penolakan (Eka) tersebut. Itu memang sifatnya sukarela. Diterima syukur, tidak diterima juga tidak apa-apa. Jangan dibawa serius,” katanya.

Sebelumnya, sastrawan Eka Kurniawan menyatakan menolak menerima penghargaan Maestro Seni dan Tradisi dari Kemendikbud. Alasan penolakannya, pemerintah dinilai kurang peduli pada kebudayaan.

Eka yang juga penulis sejumlah novel laris, seperti Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, itu menyatakan dalam media sosialnya bahwa hadiah yang didapat, yakni uang senilai Rp50 juta, masih jauh dibandingkan yang diterima peraih medali dalam kejuaraan olahraga dunia. Selain itu, juga ada beberapa alasan lain penolakannya, seperti maraknya pembajakan buku hingga razia buku-buku tertentu oleh aparat.


Editor : Ahmad Islamy Jamil