Ganjar Hadirkan Sekolah Virtual Bagi Warga Miskin dan Difabel, Syafril Nasution: Perlu Diikuti Pemprov Lain
JAKARTA, iNews.id - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo membuat terobosan sekolah virtual bagi siswa kategori miskin dan difabel. Program tersebut memungkinkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan secara daring.
Dalam program tersebut, Ganjar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng mendorong siswa semangat belajar dengan fasilitas gawai serta pulsa internet secara gratis hasil kerjasama dengan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng.
Merespons hal tersebut, Wakil Ketua Umum DPP Partai Perindo, Syafril Nasution menyatakan apa yang dilakukan Pemprov Jateng perlu diikuti provinsi lainnya di Indonesia.
Syafril Nasution yang merupakan bacaleg DPR RI dari Partai Perindo Dapil I Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten dan Kota Semarang, Kendal, dan Salatiga itu, menyebutkan, masyarakat miskin dan difabel bukan hanya ada di Jateng.
Untuk itu, hal yang dimaksud perlu dilakukan oleh Pemprov lainnya sebagai upaya memenuhi hak pendidikan kepada semua lapisan warga negara.
"Ini bagus sekali ditiru dan diikuti oleh Pemprov lainnya, sehingga kita benar-benar memberikan harapan kepada mereka dalam berprestasi di dunia pendidikan seperti masyarakat umum lainnya," kata Syafril, Jumat (16/6/2023).
Sebelumnya, Ganjar juga menyempurnakan terobosan sekolah virtual ini dengan keterlibatan sekolah formal. Sekolah akan mendampingi siswa kategori miskin dan difabel dengan pendampingan profesional-berkualitas.
“Jadi ada sekolah-sekolah formal yang mendampingi mereka sehingga dari sisi kualitas pasti terjaga, pendampingannya terjaga, dan anaknya mendapatkan kesempatan yang lebih baik,” kata Ganjar saat ditemui di SMAN 1 Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jateng, Kamis (15/6/2023).
Pendampingan siswa kategori miskin dan difabel dalam program sekolah virtual itu, kata Ganjar, merupakan komitmen Pemprov Jateng untuk memberikan akses pendidikan seluas-luasnya.
Dengan pendampingan ini, siswa kategori miskin dan difabel akan merasakan proses belajar yang lebih berkualitas. Termasuk jika wilayahnya termasuk belum memiliki fasilitas SMA atau SMK negeri atau disebut area blank spot.
“Sekolah virtual itu sebenarnya untuk mengisi ruang-ruang yang tidak mudah kepada anak-anak yang memang nasibnya berbeda karena mungkin mereka harus membantu orang tua,” tuturnya.
Editor: Muhammad Fida Ul Haq