Godzilla El Nino Ancam Indonesia April 2026, Risiko Kesehatan Meningkat Tajam!
JAKARTA, iNews.id – Fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada April 2026 mulai menimbulkan kekhawatiran serius. Bahkan, sejumlah pihak menyebutnya sebagai Godzilla El Nino karena potensi dampaknya yang luas dan kompleks, terutama terhadap kesehatan masyarakat.
Epidemiolog Griffith University Australia dr Dicky Budiman mengingatkan bahwa fenomena Godzilla El Nino ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa, melainkan ancaman kesehatan yang bersifat multidimensi.
Menurut dia, sejumlah institusi seperti BMKG telah mengingatkan potensi El Nino yang bisa berkembang dari lemah menjadi kuat, dengan durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Dokter Dicky menjelaskan, El Nino 2026 berpotensi memicu berbagai kondisi ekstrem secara bersamaan, mulai dari panas berlebih, kekeringan, penurunan kualitas udara hingga hujan yang tidak menentu.
Penyebab Cuaca Panas di Indonesia, Bikin Gerah Maksimal!
Ia menyebut kondisi ini sebagai 'multi hazard', yakni gabungan berbagai ancaman yang berdampak langsung pada kesehatan manusia.
"Ini yang menciptakan kondisi multi hazard namanya, ya. Hazard ini ancaman terhadap atau risiko kesehatan berupa panas, suhu panas, kering, polusi, hujan sporadis. Ini yang sangat kompleks dari perspektif kesehatan masyarakat," jelasnya pada iNews.id, Senin (23/3/2026).
Apa Itu Godzilla El Nino, Fenomena Ekstrem yang Bikin Kemarau Indonesia Lebih Panjang?
Salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya polusi udara saat musim kemarau. Bahkan, kadar polutan bisa melampaui ambang batas aman.
Teror Godzilla El Nino Mulai April 2026, Indonesia Kena Dampaknya!
Selain itu, kondisi cuaca ekstrem ini turut meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Mulai dari gangguan akibat panas hingga penyakit berbasis lingkungan.
"Risikonya, ya, akibat panas ekstrim tentu adanya heat exhaustion dan juga heat stroke fatal bahkan jika tidak ditangani cepat termasuk dehidrasi berat dan potensi gangguan ginjal akut ketika mengalami dehidrasi," kata Dicky.
Tak hanya itu, kualitas udara yang buruk juga berkontribusi terhadap lonjakan penyakit pernapasan.
"Seperti ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik, juga penyakit kardiovaskuler," ujarnya.
Di sisi lain, penyakit menular juga berpotensi meningkat akibat perubahan kondisi lingkungan, seperti air yang tercemar dan genangan yang menjadi sarang nyamuk.
"Diare akibat kuman leptospirosis atau hepatitis A juga meningkat," tuturnya. "Lalu, demam berdarah juga akan meningkat. Pun malaria, karena kemarau yang panjang," tambah dr Dicky.
Menghadapi situasi ini, dr Dicky mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan.
"Tentu proteksi dari panas, ya. Jadi hindari aktivitas di luar ruangan antara jam 10.00 sampai 15.00," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi tubuh. "Kemudian cukup minum, harus cukup minum. Jadi proteksi panas tuh antaranya juga harus cukup minum. 2 sampai 3 liter per hari, ya," sarannya.
Selain itu, penggunaan masker saat kualitas udara buruk juga disarankan. "Kita harus gunakan masker saat keluar ruangan, menaiki motor apalagi, ya. Dengan polisi tinggi seperti ini," ucapnya.
Tak kalah penting, masyarakat diminta menjaga kebersihan air dan makanan, serta mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Di akhir, dr Dicky menegaskan bahwa El Nino bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan ancaman serius yang perlu diantisipasi bersama.
"Sekali lagi, fenomena El Nino ini bukan sekedar isu cuaca, tapi juga ancaman kesehatan masyarakat yang multi dimensi yang berbasis iklim ya," katanya.
Editor: Muhammad Sukardi