Hakteknas 2024, Momentum Perkuat UI di Bidang Riset dan Inovasi Nasional hingga Global
JAKARTA, iNews.id - Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-29 diperingati pada 10 Agustus 2024 lalu. Hakteknas menjadi momen bagi Universitas Indonesia (UI), untuk mengoptimalkan perannya dalam bidang riset dan inovasi. Serta mendorong pertumbuhan ekonomi, sosial, dan teknologi yang berkelanjutan.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI drg Nurtami, Ph.D., Sp,OF(K) mengatakan, Hakteknas menjadi sebuah pengingat akan pentingnya peran riset dan inovasi. Terutama dalam membentuk masa depan bangsa yang lebih maju dan mandiri.
“Hakteknas menjadi katalisator untuk memperkuat komitmen UI dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dan dunia,” kata Nurtami saat berbincang dengan iNews Media Group di Gedung Science Techno Park UI, Rabu (14/8/2024).
Sebagai institusi pendidikan terkemuka di Indonesia, UI bertanggung jawab untuk terus mendorong dan memimpin karya inovatif. Sehingga dapat memberikan solusi atas tantangan-tantangan besar, yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Lulusan doktor dari Tokyo Medical and Dental University, Yushima, Tokyo, Jepang ini mengatakan, UI telah memainkan peran sentral dalam ekosistem riset dan inovasi nasional melalui berbagai kontribusi signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, UI terbukti berhasil menciptakan sejumlah inovasi yang dipatenkan dan diadopsi oleh industri, terutama dalam bidang kesehatan, energi terbarukan, hingga teknologi digital.
Salah satu inovasi UI saat pandemi Covid-19 melanda yakni Covent-20, yang merupakan ventilator transport lokal rendah biaya berbasis sistem pneumatik. Covent-20 memiliki keunggulan biaya produksi yang lebih hemat, compact, portable, hemat energi, serta mudah dioperasikan. Inovasi ventilator karya UI ini mampu memenuhi kebutuhan ventilator di rumah sakit seluruh Indonesia saat pandemi Covid-19.
Prestasi ini juga menjadi landasan bagi kampus beralmamater kuning ini untuk terus meningkatkan kualitas riset, dengan tujuan agar hasilnya dapat berkontribusi secara langsung terhadap kemajuan Indonesia di berbagai sektor strategis.
Pada momen Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2024, universitas yang dijuluki sebagai Kampus Perjuangan ini memiliki harapan besar bahwa seluruh elemen bangsa dapat semakin menyadari pentingnya riset dan inovasi sebagai fondasi bagi kemajuan dan kemandirian bangsa.
“Kami berharap Hakteknas dapat mendorong peningkatan kesadaran kolektif akan peran riset sebagai instrumen kunci dalam mencapai kemandirian dan keberlanjutan di berbagai bidang, termasuk ekonomi, kesehatan, dan lingkungan,” tutur Nurtami yang pernah membantu tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri saat kecelakaan pesawat di perairan Kepulauan Seribu 2021 lalu.
Lebih lanjut, dia menyatakan UI juga berharap bahwa melalui momentum ini, sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi dapat semakin diperkuat. Kolaborasi yang erat antara berbagai pihak akan menjadi katalisator bagi pengembangan inovasi-inovasi baru yang tidak hanya relevan, tetapi juga mampu bersaing ditingkat global.

Sinergi n-Helix Untuk Indonesia Emas 2045
Untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, UI kerap menginisiasi kolaborasi dengan pemerintah, industri, hingga masyarakat. Mencari solusi yang dihadapi bangsa Indonesia melalui kolaborasi dengan terbentuknya ekosistem n-Helix (jejaring untuk saling belajar dalam pengintegrasian ekonomi sirkular di Indonesia).
Perempuan yang ahli di bidang Odontologi Forensik dan DNA ini menambahkan, UI juga menjalin kerja sama erat dengan industri dan venture capital untuk mempercepat komersialisasi hasil riset. Dengan dukungan dari venture capital, UI dapat mendorong pertumbuhan perusahaan startup berbasis teknologi yang lahir dari hasil riset kampus.
“Saya kira UI sangat berpengaruh. Dalam pengembangan riset dan inovasi kita harus naik kelas. Jadi, riset dan inovasi yang tadinya hanya untuk mengembangkan bidang akademik, perlahan harus kita hantarkan ke arah industri atau yang bisa dikomersialisasikan,” katanya.
Kemitraan yang terjalin ini memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai akademis, tetapi juga dapat diterapkan dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Melalui sinergi ini, UI bertekad untuk terus berperan sebagai penggerak utama dalam pencapaian Indonesia Emas 2045.
Universitas Indonesia berkomitmen penuh untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui berbagai inisiatif riset dan inovasi yang berfokus pada pengembangan teknologi yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.
“Dalam hal ini, peran pemerintah sangat krusial sebagai fasilitator dan enabler. Pemerintah diharapkan dapat terus mendukung upaya-upaya riset dan inovasi melalui kebijakan yang mendukung, pembiayaan yang memadai, dan penyediaan infrastruktur yang diperlukan,” ujar Nurtami yang pernah menjabat Ketua Program Pascasarjana Ilmu Kedokteran Gigi Dasar dan Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi.
Selain itu, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam hal regulasi dan pelaksanaan program-program strategis akan menjadi kunci sukses dalam mencapai cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Akses Riset bagi Mahasiswa
Mahasiswa Universitas Indonesia memiliki peran yang sangat vital dalam ekosistem riset dan inovasi. Mereka didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan riset sejak dini melalui berbagai program yang disediakan kampus. Seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Skema Pendanaan Riset.
Mahasiswa juga diberikan akses ke laboratorium modern, pusat riset interdisipliner, serta program inkubasi yang memfasilitasi transformasi ide menjadi inovasi yang siap dikomersialisasikan. UI juga menyediakan program mentoring dari dosen-dosen berpengalaman, hingga peluang kolaborasi dengan industri.
Pendekatan holistik ini memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk menjadi inovator masa depan. “Mereka dipersiapkan untuk berkontribusi secara nyata dalam pengembangan riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” tutur Nurtami.
Lantas apa kendala yang dihadapi UI dalam pengembangan riset dan inovasi? Nurtami menjelaskan, UI menghadapi beberapa kendala, termasuk keterbatasan dana, kompleksitas birokrasi, dan tantangan dalam komersialisasi hasil riset.
Namun, UI telah mengatasi kendala-kendala ini dengan memperkuat kolaborasi dengan mitra industri dan internasional untuk mendapatkan sumber daya tambahan serta akses teknologi mutakhir.
Selain itu, melalui pengembangan unit-unit khusus seperti kantor hak kekayaan intelektual dan inkubator bisnis, UI memberikan dukungan penuh bagi peneliti untuk mempercepat proses komersialisasi hasil riset.
Editor: Anindita Trinoviana