Harga Telur hingga Daging Ayam Naik di Hari Kemerdekaan, Ini Penjelasan Mendag
JAKARTA, iNews.id - Harga sejumlah bahan pangan naik pada Hari Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026). Komoditas seperti bawang, beras, cabai, minyak goreng hingga telur tercatat mengalami kenaikan berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso atau akrab disapa Busan mengatakan pemerintah terus memantau pergerakan harga pangan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Dia menyebut harga sejumlah komoditas secara nasional masih berada di sekitar Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, terdapat daerah tertentu dengan harga jauh lebih tinggi akibat kendala distribusi.
“Gini ya, jadi coba cek di SP2KP. Kemarin kan juga ada… misalnya begini, kayak telur, telur itu sekarang harga rata-rata nasional itu Rp26 ribu, memang ada yang tinggi,” ucap Busan saat dijumpai di kantornya di Jakarta Pusat.
Busan mencontohkan Papua Pegunungan sebagai salah satu wilayah dengan harga telur relatif tinggi. Kondisi geografis dan distribusi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan di daerah tersebut.
“Papua Pegunungan itu kan memang distribusinya tidak semudah dengan tempat yang lain ya, jadi kecenderungan masih tinggi walaupun kita terus berusaha untuk mensuplai dari daerah yang lain,” imbuhnya.
Menurut Busan, harga pangan secara nasional masih berada di kisaran HET. Namun, dia mengakui harga daging ayam mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp34.000-Rp36.000 per kilogram.
“Kemudian yang kedua, ayam, daging ayam. Daging ayam itu rata-rata nasional sekarang Rp38 ribu, HET-nya kan Rp45 ribu, memang naik dari sebelumnya itu Rp34-36 ribu harga ayam, sekarang Rp36 ribu, ini sebenarnya setelah kemarin ada kebijakan dari MBG,” jelasnya.
Dia menjelaskan kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat pembelian telur dan daging ayam mengikuti harga acuan. Kondisi tersebut membuat komoditas yang sebelumnya dijual lebih murah ikut terserap program MBG.
“Jadi tidak boleh juga MBG membeli harga yang rendah, tapi harus sesuai dengan harga acuan. Sehingga harga yang tadinya murah ya sekarang menjadi terserap oleh MBG,” tuturnya.
Pemerintah tetap memantau wilayah yang mencatat kenaikan harga jauh di atas HET. Perhatian khusus diberikan kepada daerah dengan tantangan distribusi, termasuk Papua Pegunungan.
“Jadi kalau ada kenaikan memang kenaikan dari rendah naik, tetapi masih mendekati HET-lah. Kecuali daerah tertentu yang disampaikan tadi, misalnya kayak Papua Pegunungan itu itu memang tinggi jauh di atas HET,” pungkasnya.
Editor: Puti Aini Yasmin