Hari Ini Genap Sepekan Gunung Anak Krakatau Erupsi, Apa Saja yang Sudah Terjadi?
JAKARTA, iNews.id - Hari ini, Jumat (11/9/2026), genap sepekan sejak Gunung Anak Krakatau mulai mengalami episode erupsi besar pada 4 September 2026. Dalam tujuh hari terakhir, aktivitas gunung api di Selat Sunda tersebut berdampak luas, mulai dari sebaran abu vulkanik hingga terganggunya penerbangan di sejumlah wilayah.
Namun, perlu diluruskan bahwa Gunung Anak Krakatau tidak mengalami erupsi menerus selama tujuh hari penuh. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam, kemudian aktivitas vulkanik berlanjut secara berkala. Badan Geologi sendiri masih menerbitkan evaluasi perkembangan erupsi hingga 10 September 2026.
Lantas, apa saja yang terjadi sejak erupsi Anak Krakatau mencuat pada 4 September hingga hari ini?
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai meningkat pada Jumat (4/9/2026). Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi episode erupsi menerus yang menghasilkan abu vulkanik serta material pijar dari kawah.
Badan Geologi kemudian menerbitkan laporan khusus mengenai fenomena erupsi menerus Gunung Anak Krakatau pada 5 September. Dalam laporan tersebut, aktivitas erupsi menjadi perhatian karena intensitas material vulkanik yang dikeluarkan cukup besar.
Erupsi yang dimulai pada periode ini menjadi awal rangkaian peristiwa yang kemudian berdampak terhadap wilayah udara di sekitar Selat Sunda hingga Pulau Jawa dan Sumatra.
Memasuki Sabtu (5/9/2026), erupsi masih berlangsung. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam.
Aktivitas tersebut ditandai keluarnya lava, abu dan material vulkanik pijar dari kawah. Setelah periode erupsi menerus ini berakhir, Anak Krakatau tidak serta-merta kembali tenang karena aktivitas vulkanik masih berlanjut secara intermiten.
Pada fase inilah potensi sebaran abu vulkanik mulai menjadi perhatian serius, terutama bagi keselamatan penerbangan.
Minggu (6/9/2026) menjadi salah satu hari paling berdampak dalam rangkaian erupsi Anak Krakatau.
BMKG mengintensifkan pemantauan terhadap sebaran abu vulkanik. Berdasarkan analisis citra satelit, terdapat dua klaster sebaran abu yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Kondisi tersebut kemudian mengganggu penerbangan. Delapan bandara terdampak, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Reuters melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak pada hari tersebut. Kolom abu bahkan mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki.
Sekolah dan aktivitas nelayan di sejumlah wilayah juga ikut terdampak akibat sebaran abu vulkanik.
Pada saat yang sama, pemerintah meminta masyarakat tetap waspada, menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu meningkat.
Memasuki Senin (7/9/2026), episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir. Namun, kondisi tersebut bukan berarti gunung api sepenuhnya berhenti beraktivitas.
Badan Geologi tetap melakukan evaluasi karena Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi secara berkala. Aktivitas tersebut menjadi alasan masyarakat tetap diminta menjauhi kawasan sekitar kawah.
Dampak abu vulkanik terhadap penerbangan juga belum langsung berakhir. BMKG menyebut hingga Senin pagi sebaran abu masih berdampak langsung terhadap operasional delapan bandara di Jawa dan Sumatra.
Secara keseluruhan, hampir 3.000 penerbangan terdampak akibat gangguan tersebut.
Selasa (8/9/2026) membawa kabar baik bagi sektor penerbangan. Sejumlah bandara yang sebelumnya ditutup mulai kembali beroperasi setelah pemeriksaan menunjukkan area landasan dan ruang udara telah dinyatakan aman dari sebaran abu vulkanik.
BMKG menyebut pengujian paper test menunjukkan hasil negatif terhadap abu vulkanik di sejumlah bandara.
Reuters melaporkan seluruh bandara yang sebelumnya ditutup akibat abu Anak Krakatau telah kembali dibuka, termasuk Soekarno-Hatta. Namun, sebanyak 178 pesawat yang sebelumnya tertahan perlu menjalani pemeriksaan sebelum kembali beroperasi. Lebih dari 340.000 penumpang terdampak selama gangguan penerbangan tersebut.
Di tengah pemulihan penerbangan, Anak Krakatau ternyata belum sepenuhnya tenang. Gunung tersebut kembali mengalami tiga erupsi pada Selasa pagi. Meski lebih kecil dibandingkan erupsi sebelumnya, aktivitas itu tetap dipantau karena dampaknya dapat berubah bergantung pada ketinggian abu dan arah angin.
Rabu (9/9/2026), aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian. Gunung api tersebut tercatat kembali mengalami erupsi secara berkala.
Di hari yang sama, muncul peristiwa lain yang menyita perhatian. Sebuah kapal cepat yang membawa delapan orang, terdiri dari lima jurnalis foto (salah satunya jurnalis iNews), dua awak kapal dan seorang pemandu, dilaporkan hilang kontak setelah berangkat dari Carita, Banten, untuk meliput aktivitas erupsi Anak Krakatau.
Tim SAR kemudian memperluas pencarian ke perairan Selat Sunda. Lima kapal, termasuk kapal TNI AL, dikerahkan untuk mencari keberadaan mereka.
Badan Geologi pada saat yang sama memperingatkan bahwa aktivitas vulkanik masih tinggi dan kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan masih ada. Potensi bahaya mencakup lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Kamis (10/9/2026), atau sehari sebelum genap sepekan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian Badan Geologi.
Badan Geologi menerbitkan kembali evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 10 September 2026. Hal ini menunjukkan pemantauan terhadap gunung api tersebut masih berlangsung setelah episode erupsi menerus pada 4–6 September.
Dengan aktivitas erupsi yang masih dapat terjadi secara berkala, masyarakat tetap diminta tidak mendekati kawasan kawah. Badan Geologi sebelumnya menetapkan zona bahaya dengan jarak 3 kilometer dari kawah aktif.
Kewaspadaan juga diperlukan karena perubahan arah angin dapat kembali membawa abu vulkanik ke wilayah yang sebelumnya telah terbebas dari paparan.
Hari ini, Jumat (11/9/2026), tepat tujuh hari sejak rangkaian erupsi besar Anak Krakatau dimulai.
Dalam kurun sepekan, Gunung Anak Krakatau telah mengalami episode erupsi menerus sekitar 25 jam, disusul erupsi secara berkala. Dampaknya pun meluas dari kawasan sekitar gunung hingga sektor penerbangan di Pulau Jawa dan Sumatra.
Sebaran abu vulkanik sempat menyebabkan delapan bandara ditutup dan mengganggu hampir 3.000 penerbangan, dengan sekitar 341.000 penumpang terdampak. Sekolah di sejumlah wilayah juga mendapat izin untuk mengalihkan pembelajaran ke sistem daring guna mengurangi paparan abu vulkanik.
Meski sebagian besar aktivitas penerbangan telah kembali normal, kondisi Gunung Anak Krakatau masih harus dipantau. Aktivitas vulkanik yang masih terjadi secara intermiten membuat potensi erupsi lanjutan belum dapat diabaikan.
Jika dirangkum, tujuh hari terakhir menunjukkan bahwa erupsi Anak Krakatau bukan hanya persoalan aktivitas gunung api.
Peristiwa tersebut berdampak langsung terhadap keselamatan penerbangan, aktivitas pendidikan, kegiatan nelayan hingga kondisi masyarakat yang terpapar abu vulkanik.
Episode erupsi menerus memang telah berakhir, tetapi aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung secara berkala. Karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda dan wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik tetap perlu mengikuti informasi resmi Badan Geologi, PVMBG, BMKG dan pemerintah daerah.
Yang juga menjadi perhatian, Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat, wisatawan dan nelayan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Editor: Muhammad Sukardi