Idrus Marham Dorong NU Tata Ulang Kepemimpinan: Perlu Strong Leadership
JAKARTA, iNews.id - Ketua Umum Forum Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (IKA PTKIN) Indonesia, Idrus Marham menilai Nahdlatul Ulama (NU) perlu menata kembali kepemimpinannya untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan. Menurut Idrus, penataan kepemimpinan diperlukan agar NU mampu memantapkan arah organisasi sekaligus merespons dinamika masyarakat, perkembangan zaman, dan berbagai inovasi yang terus berkembang.
"Itulah sebabnya maka buku saya judul kecilnya itu adalah 'memantapkan arah'. Ya bukan NU tanpa arah selama ini, tetapi memantapkan arah ke depan agar supaya mampu mengakomodasi dinamika yang ada, perkembangan masyarakat yang ada, inovasi-inovasi yang ada," kata Idrus saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Penulis buku Nahdlatul Ulama dan Tantangan Peradaban itu menilai, upaya memantapkan arah organisasi membutuhkan kepemimpinan yang kuat atau strong leadership.
Menurutnya, pemimpin yang kuat tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual. Ada kemampuan lain yang juga dibutuhkan agar pemimpin mampu membawa NU memainkan peran lebih besar di tengah masyarakat.
"Diperlukan strong leadership di sini. Seperti apa kriterianya? Ya tentu tidak hanya sekadar memiliki kemampuan intelektualitas, tetapi juga diperlukan kemampuan-kemampuan lain," ujar Idrus.
Dia mengatakan masa depan NU sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi tersebut dalam mengambil peran di tengah perkembangan masyarakat. Peran itu, kata dia, perlu dibangun berdasarkan gagasan dan konsep inovatif yang dapat diwujudkan dalam bentuk kerja nyata.
"Kenapa? Karena masa depan NU sangat ditentukan seberapa jauh NU dapat berperan, mengambil peran. Dan peran ini diharapkan betul-betul didasarkan pada konsep-konsep yang ada, konsep-konsep inovatif yang ada, sehingga NU betul-betul memiliki satu prestasi," tambahnya.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar itu menilai kepemimpinan dalam organisasi keumatan pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, organisasi keagamaan yang baik adalah organisasi yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi umat yang dilayaninya. Karena itu, diperlukan pemimpin yang memiliki komitmen dan gagasan yang dapat diimplementasikan.
"Kalau analogi berpikir ini kita gunakan, adalah bahwa sebaik-baik sebuah organisasi keagamaan/keumatan, adalah organisasi yang memiliki manfaat kepada umatnya," kata Idrus.
Idrus menambahkan, gagasan dan konsep yang dimiliki seorang pemimpin tidak akan cukup apabila tidak disertai kemampuan untuk menjalankannya.
"Kalau tidak, jangan sampai yang terjadi pengurus mau diurus. Atau paling tidak, di dalam istilah buku saya itu bahwa, jangan sampai nanti pengurus itu justru pada kelompok yang cenderung pragmatis," ucap Idrus.
Dia pun mengingatkan agar kepemimpinan NU tidak terjebak pada kepentingan pragmatis yang hanya terlihat aktif memperjuangkan kepentingan organisasi, tetapi memiliki kepentingan lain di baliknya.
"Jadi memang kelihatan dia lincah dan secara sepintas bisa kita melihat bahwa seakan-akan berjuang untuk NU, tetapi sebenarnya ada di balik itu yang sebenarnya juga kita tahu," pungkasnya.
Editor: Rizky Agustian