Indonesia Bidik Posisi Nomor 1 Dunia Produsen Panas Bumi, Geser AS
JAKARTA, iNews.id - Indonesia membidik posisi nomor satu dunia produsen panas bumi dengan menggeser Amerika Serikat (AS). Ambisi tersebut didukung potensi sumber daya panas bumi Indonesia yang melimpah serta komitmen pemerintah dalam mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Ahmad Yani mengatakan, saat ini Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam produksi panas bumi setelah AS. Namun, dia optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dunia dalam sektor energi panas bumi.
"Saat ini Indonesia kita nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat. Jadi untuk menuju sana apakah bisa? Ya bisa, potensinya sudah ada, tidak ada isu, tidak ada isu terkait dengan resource potential sudah banyak," ujar Ahmad di Jakarta, dikutip Kamis (5/11/2026).
Menurut Ahmad, besarnya potensi sumber daya panas bumi menjadi modal utama Indonesia untuk meningkatkan kapasitas produksi. Terlebih, pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan guna memenuhi kebutuhan energi nasional.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Hijau, pemerintah telah mengalokasikan porsi pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 5,2 gigawatt (GW).
"Nah ke depannya, momen 100 tahun ini bukan hanya sebagai momen sejarah, tapi saatnya kita memperlihatkan kepada dunia bahwasannya kita itu bisa menjadi leader dalam pengembangan panas bumi," katanya.
Untuk mendukung ambisi tersebut, PGE terus mempercepat pengembangan sejumlah proyek strategis, di antaranya Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Melalui pengembangan proyek-proyek tersebut, perseroan menargetkan kapasitas terpasang panas bumi mencapai 1 GW pada 2028, meningkat dari posisi saat ini sebesar 727 megawatt (MW). Selanjutnya, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
"Target kita tahun 2028 menjadi 1 gigawatt dari 727 megawatt saat ini. Kemudian di tahun 2034 kita akan menjadi 1,8 gigawatt. Nah itu target kita dan pemerintah sendiri melalui Ditjen EBTKE memiliki target. Dalam artian tahun 2030 menjadi nomor satu di dunia," katanya.
Ahmad menilai percepatan pengembangan panas bumi membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, terutama terkait kepastian keekonomian proyek dan investasi. Untuk itu, PGE tengah melakukan advokasi kepada pemerintah agar merevisi ketentuan tarif panas bumi dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022.
Perseroan mengusulkan adanya penyesuaian tarif serta penerapan skema feed-in tariff untuk memberikan kepastian investasi bagi pengembang panas bumi.
"Dengan adanya revisi tarif dan skema feed-in tariff jadi ada kepastian investasi, sehingga saya yakin dengan adanya terobosan ini nantinya akan terjadi percepatan dari milestone rencana growth-nya PGE dan geothermal Indonesia," katanya.
Adapun dari sisi operasional, PGE mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari-September 2026 dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri (own operation).
Produksi tersebut meningkat 9,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu juga menjadi rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah operasional perseroan atau all-time high.
Selain itu, realisasi produksi listrik panas bumi PGE tersebut telah mencapai 108,22 persen dari target yang ditetapkan sebesar 3.801 GWh hingga September 2026.
Editor: Reza Fajri