Indonesia Harus Siap Hadapi Kemungkinan Buruk akibat Perang di Iran, Persatuan Nasional Jadi Kunci
Arief Poyuono
Politisi
PRESIDEN Prabowo Subianto memberi peringatan soal masa sulit yang akan dihadapi masyarakat. Menurut Prabowo, bangsa Indonesia harus bersiap melewati masa sulit karena perang di Timur Tengah.
Menurut Prabowo, kekuatan besar yang sedang bertikai bisa menyeret negara-negara lain ke dalam konflik. Kita berada dalam keadaan dunia yang penuh bahaya. Pihak-pihak kekuatan besar sedang bertikai dan bisa menyeret bangsa-bangsa lain ke dalam keadaan yang susah.
Prabowo menekankan, Indonesia bisa ikut mengalami kesulitan akibat perang tersebut. Meski Indonesia berada jauh dari lokasi pertempuran, perang di kawasan itu tetap akan memengaruhi Indonesia.
Bunker Rahasia Pejabat Israel Dihantam Rudal Hipersonik Iran, Warga Kocar-Kacir
Menurut Prabowo, Indonesia tidak bisa bersembunyi dari masalah yang akan datang. Ia menegaskan ingin mengatasi kesulitan secara langsung. "Kita harus berani mengatasi kesulitan, kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan."
Berikut gambaran dampak dari perang di Iran yang harus kita hadapi bersama. Hal ini memerlukan kekompakan seluruh elemen perekonomian nasional, baik elite politik, tokoh masyarakat, pengusaha, buruh, petani, mahasiswa, organisasi masyarakat dan keagamaan, pemerintah, dan lain-lain. Kita membutuhkan persatuan yang kuat untuk menghadapi tantangan besar demi keselamatan bangsa.
Iran Sindir Operasi Militer AS-Israel Gagal Total, Ubah Nama Jadi 'Fury Mistake'
Perang Iran dan Guncangan Ekonomi Global
Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini bukan sekadar krisis geopolitik kawasan. Konflik ini telah berkembang menjadi guncangan ekonomi global yang dampaknya menjalar dari pasar energi hingga harga pangan dunia. Perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di jalur perdagangan, pasar keuangan, dan dapur rumah tangga masyarakat di berbagai belahan dunia.
Iran: Tak Ada Kapal Tanker AS yang Berani Dekati Selat Hormuz!
Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan: apa sebenarnya tujuan strategis Amerika Serikat dalam konflik ini?
Banyak analis internasional bahkan menyebut bahwa arah perang ini sepenuhnya bergantung pada keputusan politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketidakpastian inilah yang membuat prospek berakhirnya krisis menjadi semakin kabur.
Iran Siap Ladeni Serangan AS: Kami Punya Banyak Kejutan!
Selama tujuan politik Washington belum jelas, dunia harus bersiap menghadapi dampak ekonomi yang berlapis-lapis. Yang pasti, perang ini akan menciptakan pemenang dan pecundang dalam sistem ekonomi global.
Energi: Senjata Ekonomi yang Paling Mematikan
Guncangan paling langsung terasa di sektor energi. Jalur strategis seperti Selat Hormuz selama puluhan tahun dikenal sebagai “arteri energi dunia.” Sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat sempit tersebut, atau hampir seperlima dari total konsumsi minyak global.
Ketika konflik militer mengganggu jalur ini, dampaknya sangat cepat terasa. Harga minyak yang pada akhir Februari masih berada di bawah 70 dolar AS per barel kini melonjak mendekati 120 dolar AS. Banyak analis memperkirakan harga dapat menembus 150 hingga 200 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama.
Masalahnya, tidak ada kapasitas cadangan di dunia yang cukup untuk menggantikan pasokan sebesar itu. Jika aliran minyak melalui Selat Hormuz benar-benar terhenti, dunia menghadapi kekurangan energi yang tidak dapat digantikan dalam waktu singkat.
Negara-negara pengimpor energi akan menjadi korban pertama. Kawasan seperti Eropa, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India, dan Tiongkok sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Lonjakan harga energi langsung meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan konsumsi rumah tangga.
Beberapa negara mulai mengambil langkah darurat. Di India, sejumlah restoran memperingatkan kemungkinan penutupan karena pemerintah memprioritaskan distribusi gas untuk kebutuhan rumah tangga. Thailand menangguhkan perjalanan dinas ke luar negeri bagi pegawai negeri dan mendorong penghematan energi. Filipina memperkenalkan seminggu kerja empat hari untuk sebagian instansi pemerintah, sementara Vietnam mendorong masyarakat bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi energi.
Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase ekonomi perang.
Negara yang Runtuh Lebih Cepat
Namun, tidak semua negara memiliki kemampuan yang sama untuk menahan guncangan energi. Negara dengan struktur ekonomi rapuh akan menjadi korban paling awal. Contoh paling nyata adalah Pakistan. Negara Asia Selatan ini mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan energinya dan sangat bergantung pada gas alam cair dari Qatar, pasokan yang kini terganggu akibat konflik regional.
Bagi Pakistan, kenaikan harga energi bukan sekadar statistik ekonomi. Ini berarti kenaikan harga listrik, bahan bakar, dan kebutuhan pokok yang secara langsung membebani rumah tangga. Inflasi dapat melonjak tajam sementara pertumbuhan ekonomi melambat.
Ironisnya, bank sentral Pakistan tidak memiliki ruang kebijakan yang fleksibel. Alih-alih menurunkan suku bunga untuk membantu perekonomian, mereka kemungkinan justru harus menaikkannya guna menahan inflasi. Inilah dilema klasik ekonomi krisis: antara menyelamatkan pertumbuhan atau menahan kenaikan harga.
Para Pemenang yang Tak Terduga
Di sisi lain, krisis ini juga menciptakan pemenang ekonomi. Negara-negara produsen minyak di luar zona perang berpotensi meraup keuntungan besar dari lonjakan harga energi. Negara seperti Norwegia, Rusia, dan Kanada berada dalam posisi relatif aman. Mereka tidak menghadapi ancaman serangan rudal atau drone, tetapi tetap menikmati keuntungan dari harga minyak yang tinggi.
Situasi ini memperlihatkan realitas keras ekonomi geopolitik: krisis bagi satu kawasan sering kali menjadi peluang ekonomi bagi kawasan lain.
Ancaman Kedua: Krisis Pangan Global
Energi bukan satu-satunya sektor yang terguncang. Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak pada perdagangan pupuk global. Sekitar 30 persen ekspor pupuk dunia—termasuk urea, amonia, fosfat, dan sulfur—melewati jalur tersebut. Jika pengiriman pupuk terganggu, dampaknya akan menjalar ke sektor pertanian.
Harga pupuk lebih mahal berarti biaya produksi pangan meningkat. Petani harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mempertahankan produktivitas. Pada akhirnya, biaya tambahan tersebut diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga pangan yang lebih tinggi.
Negara dengan sektor pertanian besar—termasuk Amerika Serikat—akan merasakan dampaknya. Efek paling menghancurkan akan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah yang sudah menghadapi keterbatasan produktivitas pertanian. Dalam kondisi seperti itu, krisis energi dapat berubah menjadi krisis pangan global.
Kombinasi kenaikan harga pupuk dan gangguan produksi pangan berpotensi memicu kelangkaan makanan di banyak negara berkembang.
Dilema Bank Sentral Dunia
Krisis Iran juga memunculkan dilema besar bagi bank sentral di seluruh dunia. Kenaikan harga energi meningkatkan inflasi. Untuk menahan inflasi, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga. Namun dalam situasi krisis ekonomi, suku bunga tinggi justru dapat memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko resesi.
Inilah dilema kebijakan moneter klasik: menahan inflasi atau menyelamatkan pertumbuhan ekonomi. Bahkan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kini terbelah. Sebagian pembuat kebijakan berpendapat pasar tenaga kerja yang melemah membutuhkan suku bunga lebih rendah, sementara kelompok lain khawatir inflasi masih berada di atas target 2 persen.
Jika ekonomi terbesar dunia menghadapi kebingungan kebijakan, negara berkembang tentu akan menghadapi dilema yang lebih berat.
Indonesia dalam Tekanan yang Sama
Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, gas, dan bahan baku pupuk, Indonesia tidak kebal terhadap dampak krisis ini. Lonjakan harga energi meningkatkan biaya subsidi energi dan menekan anggaran negara.
Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat memicu inflasi domestik melalui biaya transportasi, produksi, dan pangan. Bank Indonesia pun menghadapi dilema yang sama: menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi atau mempertahankannya demi menjaga pertumbuhan ekonomi.
Dengan kata lain, krisis Iran menempatkan banyak negara—termasuk Indonesia—dalam skenario mimpi buruk ekonomi global.
Ketahanan Ekonomi Dunia
Meski demikian, sejarah menunjukkan ekonomi global memiliki kapasitas untuk bertahan dari guncangan besar. Dunia telah melewati berbagai krisis besar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pengalaman ini memberi sedikit ruang optimisme. Sistem ekonomi dunia memiliki mekanisme adaptasi yang cukup kuat untuk menyerap guncangan besar. Namun optimisme tersebut memiliki syarat penting: krisis tidak berlangsung terlalu lama.
Masalahnya, konflik Iran saat ini menunjukkan sedikit tanda akan mereda. Situasi semakin kompleks setelah munculnya kepemimpinan baru di Teheran, yaitu Mojtaba Khamenei, yang dikenal memiliki pandangan lebih keras dibanding ayahnya. Dalam konteks politik domestik Iran, menyerah dari agresi dan bombardemen AS dan Israel bukanlah pilihan.
Sementara di Washington, arah strategi juga belum jelas. Inilah yang membuat masa depan krisis ini sangat sulit diprediksi.
Jika konflik berlarut-larut, dunia tidak hanya menghadapi lonjakan harga energi, tetapi juga potensi resesi global yang lebih luas. Namun jika perang dapat segera diredakan, ekonomi dunia mungkin masih mampu menyerap guncangan tersebut dengan gangguan yang relatif terbatas.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah dunia mampu bertahan, tapi berapa lama konflik ini akan berlangsung? Dan berapa besar biaya yang harus dibayar oleh ekonomi global sebelum perdamaian kembali tercapai?
Di titik inilah arahan Presiden Prabowo bahwa kita harus senantiasa bersiap menghadapi kesulitan ke depan menjadi sangat relevan. Persatuan nasional dan kesiapan menghadapi tantangan global adalah kunci agar Indonesia mampu melewati badai ekonomi dunia dengan lebih aman.
Editor: Maria Christina