Jimly hingga Said Didu Hadiri Aksi Rakyat Bela Indonesia, Singgung Pengkhianat Bangsa
JAKARTA, iNews.id - Sejumlah tokoh menghadiri aksi Rakyat Bela Indonesia yang digelar di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Minggu (8/11/2026). Dalam aksi tersebut, mereka menyoroti kondisi bangsa belakangan ini dan menyampaikan kritik terkait dugaan pengkhianatan serta penyalahgunaan kekuasaan.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie mengatakan, rakyat Indonesia saat ini menghadapi berbagai perkembangan situasi bangsa dan negara. Dia menyinggung adanya pihak yang dinilai menggunakan kekuasaan secara zalim.
“Kita harus menjadi corong suara penyeimbang. Kalau ada kelompok pengkhianat, maka harus muncul yang mengimbanginya,” kata Jimly dalam sambutannya.
Jimly juga menyinggung Surah Al-Baqarah ayat 251. Dia mengingatkan pentingnya kehadiran kelompok yang saling mengimbangi agar kehidupan di bumi tidak mengalami kehancuran.
"Ini adalah tanggung jawab ya kita sebagai warga bangsa, tanggung jawab kita sebagai umat Islam. Maka saya sangat mendukung inisiatif kawan-kawan pimpinan ormas bahwa kita menyuarakan suara nurani dan suara akal sehat. Logic power dan moral power untuk jadi penyeimbang mengingatkan semua pengambil keputusan agar lurus di jalan yang benar,” ujarnya.
Sementara itu, analis kebijakan publik sekaligus mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menyoroti kekuatan oligarki yang menurutnya telah merusak Indonesia. Dia menuding adanya praktik suap terhadap sejumlah unsur di pemerintahan dan lembaga negara.
“Partai Politik disuap, penegak hukum disuap, Bintang-bintang coklat dan ijo dijadikan pelindung perampokan mereka,” tutur Said.
Said menilai belum ada presiden selain Prabowo Subianto yang berani menyentuh kekuatan tersebut. Dia meyakini langkah Prabowo akan memicu serangan balik dari pihak-pihak yang merasa terganggu.
“Karena Prabowo langsung menyerang kekuasaan mereka maka datanglah sandiwara yang dilakukan oleh mantan kapolri untuk menyadap Presidennya. Itu adalah puncak dari segalanya,” pungkasnya.
Editor: Rizky Agustian