JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi laporan global yang memproyeksikan lonjakan signifikan jumlah orang super kaya di Indonesia. Berdasarkan data Knight Frank, populasi kelompok super kaya di Tanah Air diperkirakan akan melesat hingga 82 persen dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Dia menegaskan prioritas kerja kabinet saat ini adalah menekan jurang ketimpangan ekonomi melalui perbaikan indikator koefisien gini nasional.
Prabowo ke Kepala Daerah NTB: Jangan Niat Jadi Kaya di atas Penderitaan Rakyat, Dosa Jahat
"Ya, arahan Bapak Presiden kita sekarang mendorong perbaikan koefisien gini. Jadi program itu yang kita coba dan kita akselerasi dengan beberapa program unggulan Pak Presiden," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Menurut Airlangga, dalam rangka menjaga keseimbangan struktur sosial, pemerintah secara konsisten menerapkan kebijakan dualistis, yakni menaikkan kelas kelompok masyarakat menengah sekaligus membentengi kelompok masyarakat miskin dan rentan.
Lapor Prabowo, Kepala BGN: Anak Orang Kaya Tak Lagi Dapat MBG
Salah satu draf program jaring pengaman sosial yang dieksekusi adalah memperpanjang penyaluran bantuan pangan beras selama tiga bulan ke depan, yang mencakup alokasi untuk periode Juli hingga September.
"Jadi dengan berbagai program itu diharapkan kelas menengah ini juga bisa ketarik, dan yang desil 4 ke bawah kita jaga kebutuhan mereka untuk pangan. Makanya kita luncurkan program tambahan yang beras ini kita lanjutkan 3 bulan," jelas Airlangga.
Temui Prabowo, Kepala BGN Ungkap soal Anggaran dan Anak Orang Kaya Tak Lagi Dapat MBG
Intervensi sektor riil juga diperluas melalui sektor properti dengan memanfaatkan instrumen Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Skema pembiayaan ini dirancang agar para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa mengakses modal kepemilikan hunian hingga menyentuh angka Rp5 miliar.
Mengingat tingginya penyerapan di lapangan, pemerintah memutuskan untuk menaikkan total alokasi pagu anggaran program ini menjadi sebesar Rp50 triliun hingga akhir tahun anggaran.
Benarkah Pacar Sarwendah Si Giorgio Antonio CEO Kaya Raya? Ini Faktanya!
"Kemudian kita dorong program perumahan karena perumahan itu kunci untuk masyarakat kelas menengah dan ke bawah, dimana salah satunya kan dari program baru yang diluncurkan dengan kredit usaha rakyat yang sampai Rp5 miliar. Dan realisasinya ini cukup bagus dan sampai akhir tahun kita naikkan plafonnya ke Rp50 triliun," ungkap Airlangga.
Untuk mengamankan level konsumsi domestik agar tidak merosot, pemerintah tetap melanjutkan rangkaian paket stimulus fiskal dan insentif energi. Beberapa kebijakan penopang daya beli yang masih bergulir aktif antara lain insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), PPh Ditanggung Pemerintah, program belanja hari libur, serta komitmen mempertahankan harga jual eceran BBM jenis Pertalite dan produk biodiesel pada tingkat harga subsidi.
Purbaya Buka Suara soal Kabar Orang Kaya Wajib Beli Merah Putih dan Patriot Bond
"Kemudian PPN DTP, PPh ditanggung pemerintah kita masih jalankan. Kemudian juga kita untuk mendorong daya beli termasuk untuk program liburan ini juga kita dorong. Kemudian kita jaga kan harga Pertalite dan harga biodiesel kita jaga pada harga subsidi," kata Airlangga.
Diketahui, Knight Frank memprediksi jumlah kelompok Ultra High Net Worth Individuals (UHNWI) atau individu dengan kepemilikan kekayaan bersih minimal 30 juta dolar AS (setara Rp540 miliar dengan acuan kurs Rp18.000 per dolar AS) di Indonesia akan meroket tajam pada 2031.
Berdasarkan kalkulasi mereka, jumlah populasi super kaya di Indonesia diproyeksikan melonjak dari posisi 3.866 orang di tahun 2026 menjadi 6.966 orang pada tahun 2031 kelak.
"Indonesia berada di peringkat teratas, dengan jumlah penduduk yang memiliki kekayaan lebih dari US$ 30 juta diperkirakan melonjak 82% pada 2031," tulis draf laporan Knight Frank.
Melalui estimasi pertumbuhan kumulatif sebesar 82 persen tersebut, laju penambahan jumlah orang super kaya di Indonesia dilaporkan berhasil menempati peringkat teratas global.
Rapor ekspansi kekayaan ini tercatat sukses mengungguli performa pertumbuhan negara berkembang besar lainnya, seperti Arab Saudi serta Polandia, yang masing-masing diprediksi hanya akan tumbuh di kisaran level 60 persen.
Editor: Rizky Agustian