Kabar Duka, Philippe Stern Si Bos Jam Mewah Patek Philippe Meninggal Dunia
JENEWA, iNews.id – Kabar duka datang dari industri jam tangan mewah dunia. Philippe Stern, mantan presiden sekaligus presiden kehormatan Patek Philippe, meninggal dunia pada 14 Juni 2026 di usia 88 tahun.
Melalui pernyataan resminya, Patek Philippe mengenang Philippe Stern sebagai sosok visioner yang memiliki dedikasi besar terhadap dunia horologi. Perusahaan menyebutnya sebagai figur yang menjalani hidup dengan penuh semangat, keunggulan, dan komitmen tinggi terhadap industri jam tangan.
"Dia menjalani kehidupan yang ditandai dengan semangat dan keunggulan," tulis Patek Philippe dalam pernyataannya, dikutip Rabu (17/6/2026).
Philippe Stern memimpin Patek Philippe sebagai presiden dari 1993 hingga 2009. Setelah itu, posisinya diteruskan oleh sang putra, Thierry Stern, yang hingga kini masih menjabat sebagai presiden perusahaan pembuat jam mewah asal Swiss.
Lahir di Jenewa, Swiss, Philippe Stern berasal dari keluarga yang telah lama memiliki hubungan erat dengan Patek Philippe. Kakeknya mengakuisisi perusahaan itu pada era 1930-an, sementara ayahnya, Henri Stern, kemudian memimpin bisnis keluarga tersebut.
Sebelum menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam industri jam mewah, Philippe Stern menempuh pendidikan ekonomi dan perdagangan di University of Geneva. Dia kemudian bergabung dengan Henri Stern Watch Agency, distributor resmi Patek Philippe di Amerika Serikat, pada 1963 dan sempat bekerja di kantor New York selama tiga tahun.
Setelah kembali ke Swiss, Stern mulai mendalami seluruh aspek bisnis keluarga dan perlahan naik ke jajaran pimpinan perusahaan. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah perannya dalam peluncuran jam tangan sport mewah Nautilus pada 1976.
Model berbahan baja tersebut menjadi terobosan penting karena berhasil menarik generasi baru kolektor dan pecinta jam tangan mewah. Hingga kini, Nautilus masih menjadi salah satu model paling ikonik dan diburu kolektor di seluruh dunia.
Pada 1977, Stern dipercaya menjadi direktur umum Patek Philippe di tengah krisis kuarsa (quartz crisis), periode ketika industri jam Swiss menghadapi tekanan besar akibat maraknya jam kuarsa yang lebih murah dan praktis.
Di saat banyak produsen beralih ke teknologi kuarsa, Stern justru mempertahankan fokus pada jam mekanis tradisional. Dia meyakini bahwa kualitas, kemewahan, dan keterampilan perajin Swiss akan mampu mengalahkan produksi massal.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Di bawah kepemimpinannya, Patek Philippe memperkuat kemampuan manufaktur internal dan meningkatkan produksi jam dengan komplikasi tinggi. Salah satu pencapaian paling bersejarah adalah lahirnya Calibre 89 pada 1989.
Jam tangan yang dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-150 Patek Philippe itu memiliki 33 komplikasi dan hanya diproduksi empat unit. Calibre 89 kemudian dianggap sebagai salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah horologi modern.
Stern juga meninggalkan warisan penting melalui pembangunan fasilitas produksi modern di Plan-les-Ouates pada 1996. Lima tahun kemudian, dia meresmikan Patek Philippe Museum di Jenewa yang menjadi rumah bagi koleksi bersejarah perusahaan dan berbagai artefak dunia horologi.
Menurut Patek Philippe, salah satu fokus utama Stern sepanjang kariernya adalah menjaga independensi finansial dan teknis perusahaan keluarga tersebut.
"Hal ini memberinya kebebasan untuk menciptakan jam tangan berdasarkan kriterianya sendiri serta menjalankan strategi jangka panjang tanpa mengorbankan kualitas maupun estetika," tulis perusahaan.
Pada tahun yang sama ketika menyerahkan jabatan presiden kepada Thierry Stern, Philippe juga memperkenalkan Patek Philippe Seal, standar kualitas internal yang hingga kini dianggap sebagai salah satu tolok ukur paling ketat dalam industri jam tangan mewah.
Meski telah pensiun dari posisi eksekutif, pengaruh Stern tetap terasa. Pada 2023, Thierry Stern bahkan mempersembahkan seri jam tangan edisi khusus untuk merayakan ulang tahun ke-85 ayahnya. Koleksi terbatas itu menampilkan potret Philippe Stern pada dial dan hanya diproduksi sebanyak 30 unit.
Atas kontribusinya yang luar biasa, Philippe Stern menerima Gaia Prize bidang kewirausahaan dari International Watchmaking Museum pada 2011. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas perjalanan kariernya, kontribusinya bagi industri jam Swiss, serta perannya dalam melestarikan sejarah horologi melalui Patek Philippe Museum.
Kepergian Philippe Stern meninggalkan duka mendalam bagi industri jam tangan dunia. Banyak pihak menilai dia sebagai arsitek di balik kejayaan modern Patek Philippe dan salah satu tokoh yang berhasil menjaga eksistensi jam mekanis di tengah perubahan zaman.
Editor: Muhammad Sukardi