Kenapa Sandi Lebih Sering Tampil Dibanding Prabowo? Ini Kata Alvara
JAKARTA, iNews.id – Sejak pendaftaran capres dan cawapres di Komisi Pemilihan Umum pada Jumat (10/8/2018) lalu dan disusul tes kesehatan pada Senin (13/8/2018), aktivitas politik Prabowo Subianto seperti berkurang drastis. Prabowo jarang tampil di hadapan publik beberapa pekan belakangan ini.
Situasi kontras terjadi pada cawapresnya, Sandiaga Salahuddin Uno. Hingga saat ini aktivitas mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu nyaris tanpa jeda. Sandi terus bergerak ke berbagai tempat, mendatangi sejumlah acara dan menyapa warga.
Data yang dirangkum iNews.id, Sandi pada Minggu (26/8/2018), misalnya, menghadiri acara konser amal musik trotoar untuk korban gempa Lombok di Koja, Jakarta Utara. Malam sebelumnya, dia hadir di Senayan dan menikmati sate taichan. Di tempat itu pula dia bernyanyi dengan sejumlah musisi.
Sandi juga beberapa kali hadir di venue Asian Games 2018 untuk memberikan dukungan kepada para atlet Merah Putih. Pada acara HUT ke-20 Partai Amanat Nasional, Kamis (23/8/2018), Sandi juga hadir. Saat itu Prabowo absen karena ada acara lain.
Kunjungi Lombok, Sandi Beri Bantuan ke Ponpes dan Korban Gempa
Mengapa Sandi tampak lebih sering tampil di permukaan? Direktur Eksekutif Alvara Research Center Hasanuddin Ali menjelaskan, pasangan Prabowo-Sandiaga menjadikan pemilih milenial dan isu ekonomi sebagai andalan untuk merekrut pemilih. Pada dua isu ini, pasangan Joko Widodo-Maruf Amin dinilai masih lemah.
”Sandi ditujukan untuk menarik pemilih baru di kalangan pemilih muda. Karena itu, Sandi dalam beberapa waktu terakhir ini selalu menonjolkan simbol-simbol milenial,” kata Hasanuddin saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Minggu (26/8/2018).

Dia mengingatkan, masa kampanye masih sangat panjang yakni mulai September hingga April 2019. Dinamika sebelum kampanye juga menarik. Hasanuddin membaca, Prabowo menempatkan posisi Sandiaga sebagai “vote getter” atau pendulang suara.
"Makanya kalau kita lihat dalam beberapa hari terakhir, kalau diamati yang paling sering tampil di publik cenderung Sandi dibanding Prabowo,” ujarnya.
Hasanuddin menjelaskan, dalam survei terbaru Alvara, sosok cawapres tidak cukup signifikan mengubah pilihan masyarakat. Sampai saat ini publik masih melihat kekuatan figur dari masing-masing capres sebagai faktor penting dalam menentukan pilihan di Pilpres 2019.
Artinya, pemilih melihat pilpres mendatang masih jadi pertarungan antara Jokowi dan Prabowo. Karena itu, diperlukan strategi agar suara bertambah.
Yang menarik, posisi Sandi justru bertolak belakang dengan cawapres Jokowi, yakni Maruf Amin. Hasanuddin melihat pemilihan Maruf dimaksudkan untuk meredam isu politisasi agama yang kerap ditujukan kepada Jokowi. ”Maruf Amin lebih untuk menahan serangan. Tentu yang berada di garis depan tetap Jokowi,” kata dia.
Survei Alvara Research Center dilakukan pada 12-18 Agustus 2018. Riset tersebut menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.500 responden berusia 17 tahun ke atas. Sampel diambil di seluruh Indonesia. Adapun margin of error survei ini plus minus 2,53 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Secara keseluruhan, elektabilitas pasangan Jokowi-Maruf Amin unggul dengan perolehan suara 53,6 persen, sementara pasangan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno meraih 35,2 persen. Sebanyak 11,2 persen responden belum menentukan pilihannya.
Editor: Zen Teguh