Kiai Ma'ruf: Belum Tentu Daerah Tak Terkena Bencana Tak Ada Maksiatnya

Aditya Pratama · Sabtu, 29 Desember 2018 - 13:54 WIB
Kiai Ma'ruf: Belum Tentu Daerah Tak Terkena Bencana Tak Ada Maksiatnya

Calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin bersilaturahim dengan para ulama di Pandeglang, Banten, Sabtu (29/12/2018). (Foto: iNews.id/Aditya Pramata)

PANDEGLANG, iNews.id – Beberapa kalangan di masyarakat kerap kali mengaitkan bencana yang menimpa suatu daerah dengan maraknya maksiat yang dilakukan oleh penduduk setempat. Namun, calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin punya pandangan yang berbeda terkait masalah itu.

Menurut ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, untuk memahami faktor terjadinya sebuah bencana, masyarakat harus terlebih dulu mengetahui kondisi geografis daerah yang terkena musibah tersebut. Seperti Indonesia misalnya, yang memang berada di wilayah rawan bencana. Kondisi Indonesia, kata Ma’ruf, mirip dengan Jepang yang juga mengalami banyak bencana gempa serta tsunami.

“Jadi memang negara kita ini negara yang berada di daerah-daerah yang banyak (rawan) bencana. Karena strukturnya, ada lempengan-lembangan, yang kemudian (bencana) bisa terjadi,” ujar Ma’ruf saat menghadiri acara Istigasah dan zikir bersama untuk korban tsunami Selat Sunda di Pandeglang, Banten, Sabtu (29/12/2018).

Dia menuturkan, bukan berarti daerah yang tidak terkena bencana tidak ada maksiatnya. Sebab, menurut ilmu agama, bisa jadi ada wilayah yang penduduknya gemar bermaksiat tapi tak terkena bencana. Sementara, ada pula daerah yang penduduknya taat menjalankan agama Allah SWT, tapi diuji dengan bencana tsunami.

Dengan begitu, kata Ma’ruf, bencana yang melanda suatu wilayah tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan kemaksiatan penduduknya. Dia pun menyayangkan adanya laporan yang menyebutkan bahwa alat-alat pendeteksi dini bencana alam di Indonesia dicuri bahkan dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab.

“Jadi, masyarakat kita tidak menghargai sesuatu yang sebenarnya sangat diperlukan oleh masyarakat untuk bisa memberikan peringatan dini,” tuturnya.

Mantan rais aam PBNU itu berpendapat, anggaran mitigasi atau penanggulangan bencana di Indonesia untuk ke depannya harus diperbesar. Kebutuhan tersebut sejalan dengan pengetahuan bahwa kondisi Indonesia memang berada di wilayah rawan bencana.

“Kemudian juga ada berbagai usulan agar ada edukasi terhadap masyarakat kita, terhadap para pelajar untuk diberikan pelajaran mengenai penanggulangan bencana. Karena kita memang daerah bencana. Itu saya kira semua usul positif yang saya mendukung,” ucap sang kiai.


Editor : Ahmad Islamy Jamil