Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BGN Siapkan 4 Skema Penyaluran MBG saat Ramadan, Apa Saja?
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Dosen UNS Jalani Puasa 15 Jam di AS: Nggak Ada Kolak di Pinggir Jalan

Sabtu, 16 April 2022 - 10:16:00 WIB
Kisah Dosen UNS Jalani Puasa 15 Jam di AS: Nggak Ada Kolak di Pinggir Jalan
Dosen UNS Jalani Puasa di Amerika Serikat
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ramadan merupakan momen spesial umat Islam setiap tahunnya. Apalagi, ada berbagai hidangan menggugah selera yang membuat siapa pun semangat menjalaninya, seperti kolak.

Kolak adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari pisang serta labu. Makanan yang memiliki rasa manis ini telah menjadi hidangan favorit turun-temurun sebagai menu berbuka puasa.

Namun ternyata, momen Ramadhan tahun ini dijalani oleh Dosen Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Muhammad Taufiq Al Makmun tanpa adanya kolak. Sebab, saat ini ia tengah menyelesaikan pendidikan PhD di Bowling Green State University (BGSU), Ohio, Amerika Serikat

Taufiq mengisahkan selama Ramadhan ia harus berpuasa selama 15 jam per hari. Meskipun lebih lama daripada di Indonesia, ia mengaku cuaca di sana sangat mendukung untuk berpuasa.

“Saya sangat bersyukur karena bulan ini masuk musim semi jadi tidak sesulit saat musim panas. Temperatur di sini di bawah 10 derajat Celsius. Satu minggu sebelum Ramadan juga turun salju di sini, jadi udaranya pas,” kata Taufiq dikutip dari laman resmi UNS, Sabtu (16/4/2022).

Bahkan, ia merasa beruntung karena kampusnya cukup memfasilitasi para mahasiswa Muslim, seperti diadakannya musala hingga diizinkan salat berjamaah lima waktu di kampus. Bahkan, kegiatan tarawih hingga kajian dilakukan penuh dengan solidaritas.

Meskipun begitu, Taufiq mengaku tidak bisa mendapatkan kolak untuk berbuka puasa. Padahal, biasanya di Indonesia, berbagai jajanan takjil dijual sepanjang jalan oleh para pedagang.

“Ya meskipun demikian saya tetap nggak bisa menemukan kolak di pinggir jalan kalau di sini,” tutur Taufiq disusul dengan tawa.

Sementara itu, dosen yang merampungkan pendidikan masternya di Universiteit Utrecht, Belanda ini mengatakan bahwa Ramadan tahub ini juga dijadikan sebagai sarana menyerukan Islam damai. Salah satu caranya yakni masyarakat Muslim menyelenggarakan salat tarawih di Times Square, New York.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ratusan umat Islam di Amerika berkumpul di jantung New York tersebut untuk menggelar tarawih sebagai penanda mulainya Ramadan. Taufiq memandang hal ini sebagai salah satu upaya mengenalkan Islam yang ramah.

“Umat Islam mencoba untuk mengampanyekan Islam yang damai. Karena itulah kemarin ada salat tarawih di Times Square. Berita ini pun menyebar luas di dunia karena ini pertama kalinya dalam sejarah,” tutup Taufiq

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut