Kisah Inspiratif Marsekal Hadi dalam Buku Anak Sersan Jadi Panglima
JAKARTA, iNews.id – Tak banyak yang tahu Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pernah berjualan donat semasa muda. Dia juga pernah menjadi caddy. Semua itu dilakukan demi membantu biaya sekolah adik-adiknya.
Kerja keras, ketekunan dan disiplin itulah yang kemudian menempa perjalanan hidupnya. Lahir dari keluarga prajurit TNI AU dengan ekonomi ”pas-pasan”, Hadi bertekad untuk meneruskan, bahkan melebihi karier ayahnya.
Sekelumit cerita perjalanan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto itu dikupas dalam peluncuran dan bedah buku ”Anak Sersan Jadi Panglima: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto” di Jakarta, Jumat (16/3/2018).
"Sebenarnya buku ini dipersiapkan tidak sampai (Hadi Tjahjanto) Panglima, tetapi waktu itu dipersiapkan sampai KSAU saja. Tapi Tuhan berkehendak lain, sehingga buku ini terus berlanjut hingga sampai bab 6 di mana Mas Hadi menjadi Panglima TNI," ujar Eddy Suprapto, sang penulis.

Eddy menuturkan, kehidupan Marsekal Hadi yang penuh liku hingga mencapai karier tertinggi di militer itu mengilhami dirinya untuk menuliskan buku ini. Eddy yang juga teman masa SMA Marsekal Hadi merasa bahwa kisah hidup Panglima TNI menarik dan sangat menginspirasi.
Hadi lahir bukan dari kalangan berada. Ayahnya prajurit TNI AU yang terakhir berpangkat sersan mayor. Berjualan donat dilakukan Hadi sekitar 1976-1977 atau saat dia berusia 14 hingga 15 tahun. Banting tulang itu demi membantu ekonomi keluarga.
"Saya kira karena sosoknya (Hadi) menarik sehingga dalam mewawancara itu saya mendapat feed back yang luar biasa. Misalnya saya wawancara Pak Bambang Sudarto (ayah Marsekal Hadi), itu banyak sekali hal-hal yang digali tidak ada habisnya," ungkapnya.
Tak hanya dari sisi keluarga, dalam buku ini Eddy juga menceritakan bagaimana perjalanan karier alumnus Akademi Angkatan Udara 1986 ini. Berbagai jabatan pernah diemban jenderal kelahiran Malang, 8 November 1983 itu.
Kendati demikian, karier itu tak dilalui dengan mulus. Di lingkungan TNI, Hadi pernah diremehkan, dipandang sebelah mata, dipinggirkan, dan jarang diberi kepercayaan untuk memegang peran strategis. Bahkan, Hadi pernah digosipkan sebagai penerbang yang gagal.
Namun Tuhan berkehendak lain. Berbekal ketekunan dan kegigihan, jabatan-jabatan strategis pernah dipegangnya. Semua tanggung jawab itu dilaksanakan dengan baik. Puncaknya adalah ketika lulusan sekolah penerbang pada 1987 ini dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI.

”Saya berharap, kisah perjalanan hidup Panglima TNI ini menjadi motivasi terutama untuk menghadapi situasi kesulitan ekonomi dan mengingatkan untuk tidak meremehkan orang lain,” kata Eddy.
Peluncuran dan bedah buku ”Anak Sersan Jadi Panglima: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto” ini juga dihadiri Kolonel Wahyu Tjahjadi dan pengamat militer Jaleswari Pramodhawardhani.
Adapun Eddy Suprapto selain dikenal sebagai penulis buku, juga seorang jurnalis. Kariernya diawali di mingguan ekonomi Kontan dan berlanjut ke MNC TV. Eddy memprakarsai lahirnya saluran ekonomi MNC Business Channel, yang sekarang berubah menjadi IDX Channel. Eddy juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi RCTI.
Buku yang pernah diterbitkan antara lain Korupsi dalam Liputan Pers (Aliansi Jurnalis Independen, 1999) dan Euforia Tekanan Modal dan Konsentrasi Modal (Aliansi Jurnalis Independen, 2000) bersama Ing Haryanto dan Heru Hendratmoko.
Beberapa karya lain yang telah terbit adalah cerpen "Perahu Terakhir" (Suara Pembaharuan, 2009) yang diterjemahkan dalam bahasa Korea dan menjadi naskah drama oleh Aladdin Top Of Contents tahun 2014, "Curency Wara Trigger Global Economic Crisis" bersama Ivan Lim (AsiaN, 2010) dan cerpen "Removing Bone Straight" yang diterjemahkan dan menjadi naskah film pendek oleh Aladdin Top Of Contents Korea Selatan pada 2017.
Editor: Zen Teguh