Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pesan Tahun Baru, Zelensky Tegaskan Tak Akan Menyerah Lawan Rusia
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Mahasiswa RI Jalani Puasa di Rusia: Tahan Lapar dan Haus hingga 15 Jam

Senin, 27 Maret 2023 - 08:00:00 WIB
Kisah Mahasiswa RI Jalani Puasa di Rusia: Tahan Lapar dan Haus hingga 15 Jam
Abay di Depan Masjid Prospekt Mira (Dok. Pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ibadah puasa dilaksanakan setiap muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Rusia. Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh salah satu mahasiswa asal Indonesia bernama Akbar Rizkiatallah Pangestu.

Abay, sapaan akrabnya merupakan mahasiswa S1 di RUDN University, Rusia. Tahun 2023 merupakan pengalaman tahun keduanya puasa di negara dengan julukan Beruang Merah ini.

Menurut Abay, melaksanakan puasa di Rusia tidak sama dengan di Indonesia. Bahkan, suasananya dinilai tidak seperti bulan Ramadan pada umumnya karena banyak yang tidak melaksanakan puasa.

"Jadi di Rusia pada dasarnya vibes-nya nggak sama dengan indonesia. Di sini kita biasa melihat orang nggak puasa, jadi kalo kita bicara vibes-nya kaya bukan Ramadan," ucap dia saat berbincang dengan iNews.id baru-baru ini.

Meskipun begitu, kata Abay, ada beberapa tempat yang memiliki suasana seperti Ramadan, salah satunya di Masjid Prospekt Mira. Masjid ini merupakan yang terbesar di Moskow dan selalu dipenuhi oleh umat Islam.

Suasana Masjid Prospekt Mira
Suasana Masjid Prospekt Mira

"Mayoritas lingkungan Muslim semua, bukan asli Rusia tapi imigran dari pecahan Rusia kayak Uzbekistan, Kazastan. Jadi di sana paling sering ngadain bukber, tarawih bareng, ramai di sana," kisahnya.

Abay mengatakan makanan khas yang selalu menemani acara bukber di Masjid Prospekt Mira adalah Nasi Plov atau sejenis nasi kebuli di Indonesia. Selain itu, ada juga Shaurma yang memiliki bentuk layaknya kebab dengan ukuran yang besar dan sering menjadi pilihan untuk berbuka puasa.

"Itu makanan besar dan harganya murah, jadi Shaurma pilihan mayoritas untuk buka puasa," tutur Abay.

Cara Atasi Rindu Makanan Indonesia

Abay bersama teman-temannya berbuka puasa (Dok. Pribadi)
Abay bersama teman-temannya berbuka puasa (Dok. Pribadi)

Meskipun tinggal di Rusia, Abay selalu merindukan rasa makanan khas Indonesia. Menurut Abay, KBRI di Rusia juga sering membagi-bagikan makanan, seperti bubur pacar, bakwan, tempe hingga nasi ayam goreng. Hal itulah yang bisa mengatasi rasa rindunya terhadap masakan Indonesia.

Tak cuma itu, ia juga biasa memasak sendiri atau bersama teman-teman asal Indonesia lainnya di dapur asrama. Kekompakan itu juga terkadang membuat mereka pergi mencari makanan sahur bersama-sama.

"Kita pasti bareng, kita sahur keluar beli makanan dan di sini ada resto 24 jam kaya Uzbekistan, Kazakhstan dan kita keluar pagi-pagi jam 3 masih gelap ke restoran untuk sahur. Kalau buka puasa masak bareng masak telur balado, sambal goreng ati kentang sampai nguasain dapur asmara," ucapnya sambil tertawa.

Kisah Unik Puasa Ramadan di Rusia

Ternyata puasa juga tidak ia laksanakan sendiri. Menurut Abay, banyak orang asing di Rusia yang penasaran dengan ibadah yang ia laksanakan. Uniknya lagi, salah satu dari temannya justru ikut mencoba puasa bersamanya.

"Ada pengalaman orang Rusia ikutin puasa tapi tujuannya bukan untuk ibadah, namun diet. Buka magrib dan sahur. Jadi dari pagi sampai malam nggak minum. Sebulan itu ngikutin, memang nggak pure, jadi kalau nggak kuat minum saja atau makan buah sekali," katanya.

Untuk berpuasa, Abay harus menahan lapar dan haus selama kurang lebih 13-15 jam. Ia biasa sahur pukul 4 pagi dan berbuka di pukul 7 malam. Menurutnya, di tahun lalu puasa yang dijalani lebih menantang karena matahari baru terbit pada pukul 9 pagi sehingga waktu tenggelamnya pun lebih lama.

"Sekarang musimnya ini baru normal karena mau ke musim panas, ini kita baru normal lagi muncul (matahari) jam 6 atau setengah 6. Aku tahun pertama terasa masih malam karena masih gelap, jadi matahari tenggelam makin lama jam 8," ujar dia.

Namun, Abay mengaku puasa di Rusia dijalankan dengan tidak terlalu berat. Sebab, ia tidak merasa lapar dan haus yang berlebih karena cuaca yang dingin. Bahkan kegiatannya lebih banyak dilaksanakan di dalam ruangan.

"Oke aku lapar dan haus tapi nggak berlebihan karena mungkin nggak berlebihan karena dingin, jadi banyak di rumah nggak keluar, pulang kuliah bisa tidur nggak kerasa, jadi bangun sudah mau buka puasa,"  tutur dia.

Sementara itu, ia mengaku hal yang dirindukan dari puasa di Rusia adalah momen ngabuburit dan tarawih. Sebab, ia tidak merasakan pengalaman tersebut di Rusia karena masjid yang perlu ditempuh selama 1 jam lamanya.

"Kangen banget sama ngabuburit macet-macet di motor demi beli takjil, tarawih juga sebelah rumah dan temen bareng. Kalau di sini, jauh cuma untuk ke sana, sekitar 1 jam," tutup Abay.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut