Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kisah Jenderal TNI Bikin Soeharto Marah, Akhirnya Dicopot dari Panglima
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Menlu Era Sukarno yang Tak Punya Rumah Sendiri, Rela Tinggal di Kontrakan Bocor

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:04:00 WIB
Kisah Menlu Era Sukarno yang Tak Punya Rumah Sendiri, Rela Tinggal di Kontrakan Bocor
Menlu era Presiden Sukarno, Haji Agus Salim. (Foto: Arsip Nasional Belanda)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Haji Agus Salim merupakan tokoh bangsa yang layak menjadi panutan. Putra asli Sumatera Barat (Sumbar) yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) era Presiden Sukarno itu dikenang sebagai sosok sederhana dan bersahaja.

Dilansir dari laman Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sabtu (17/10/2026), Agus Salim merupakan salah satu tokoh bangsa yang dikenal karena kecerdasan, integritas, dan kesederhanaan hidupnya. Pria kelahiran 1884 ini menguasai sembilan bahasa dan dikenal sebagai siswa berprestasi selama menempuh pendidikan.

Integritas Agus Salim telah terlihat sejak usia muda, salah satunya ketika dia menolak beasiswa dari pemerintah Belanda untuk melanjutkan pendidikan di sekolah kedokteran.

Beasiswa tersebut awalnya diperuntukkan bagi R.A. Kartini. Namun, karena Kartini harus menikah, dia terpaksa melepaskan kesempatan tersebut. 

Dalam suratnya kepada Abendanon, Kartini merekomendasikan Agus Salim sebagai penggantinya karena mengetahui kecerdasan dan kemampuan akademik pemuda tersebut.

Meski mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan melalui beasiswa, Agus Salim menolak. Dia merasa kesempatan itu bukan hasil jerih payahnya sendiri. 

Sikap tersebut mencerminkan prinsip integritas yang dipegangnya, yakni tidak mengambil sesuatu yang menurutnya bukan haknya. Nilai tersebut menjadi relevan hingga kini, terutama ketika integritas dalam dunia pendidikan masih menjadi perhatian. 

Praktik kecurangan akademik, penggunaan joki, hingga pembelian ijazah menjadi persoalan yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan penghargaan terhadap proses belajar.

Integritas Agus Salim juga tercermin dalam kehidupan pribadinya ketika menduduki jabatan penting di pemerintahan. Meski pernah menjabat sebagai menteri dan pejabat negara, dia tetap menjalani kehidupan sederhana. 

Rumah yang ditempatinya berstatus kontrakan, bahkan atapnya bocor ketika hujan turun. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan prinsip hidup yang dipegangnya.

Kesederhanaan Agus Salim turut mendapat perhatian dari Willem Schermerhorn, seorang pejabat Belanda. Dalam Het dagboek van Schermerhorn atau Buku Harian Schermerhorn, dia menggambarkan kecerdasan sekaligus kehidupan sederhana tokoh Indonesia tersebut.

“Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang genius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Kelemahannya hanya satu: ia hidup melarat," tulis Willem Schermerhorn dalam buku hariannya.

Bercita-cita Jadi Dokter

Agus Salim lahir di Bukittinggi pada Oktober 1884.  Dia lahir dengan nama Masyadul Haq. Ayahnya merupakan jaksa di Sumbar. 

Dikutip dari buku '100 Tokoh yang Mengubah Indonesia' karya Floriberta Aning, Agus Salim merupakan lulusan terbaik sekolah menengah Belanda, Hogere Burger School (HBS). 

Usai tamat HBS, Agus Salim berencana menjadi dokter. Tapi terpaksa diurungkan karena tidak ada biaya kuliah ke Belanda.

Agus Salim akhirnya bekerja untuk pemerintah Belanda sebagai penerjemah dan ditempatkan di Jeddah. Sepulang dari Jeddah, Agus Salim mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School).

Dia kemudian melanjutkan perjuangan lewat jalur politik di Sarekat Islam, Jong Islamieten Bond, dan Gerakan Penjadar.

Agus Salim ikut merancang UUD 1945 bersama 18 orang lainnya yang dipimpin Sukarno. Namun, Agus Salim terkenal karena karier dipolimatiknya.

Dia tercatat pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia pertama dan Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin dan Hatta (1947-1949).

Dia merupakan tokoh penting memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional. 

Diplomasi Kretek

Selama menjabat di pemerintahan, Agus Salim melakukan perjalanan ke negara-negara di Timur Tengah untuk menjalin kerja sama demi mendapatkan pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Aktivitas diplomasi Agus Salim terus berlanjut meski dirinya tak menjabat sebagai menlu.

Ada kisah menarik saat Agus Salim menghadiri upacara penobatan Ratu Elizabeth II pada 2 Juni 1953 di Westminster Abbey, London, Inggris sebagaimana dikutip dari buku berjudul 'Haji Agus Salim: Karya dan Pengabdiannya' terbitan 1985.

Di acara besar yang dihadiri banyak bangsawan serta para pemimpin dunia, terutama Eropa, Agus Salim datang sebagai perwakilan pemerintah Indonesia.

Dalam acara itu, Agus Salim mengisap rokok kretek yang baunya sangat menyengat dan dianggap tidak sedap oleh masyarakat Inggris. Pangeran Philip, bergelar Duke of Edinburgh, lantas bertanya kepada orang-orang di sekitarnya mengenai asal bau tersebut. Agus Salim yang mendengar pertanyaan Pangeran Philip langsung menjawab.

Dia mengatakan bau tidak sedap itu berasal dari rokok kretek yang dia isap, sembari menjelaskan rokoknya terbuat dari tembakau dan cengkeh. Jenis rempah-rempah itulah yang kemudian disebut Agus Salim sebagai daya tarik bangsa Eropa untuk mendatangi Indonesia. 

“Anda boleh saja tidak menyukainya, tapi bau inilah yang telah menarik minat orang-orang Eropa yang datang ke negeri kami,” kata Agus Salim. 

Diplomasi kretek yang dilakukan Agus Salim kepada Pangeran Philip nyatanya cukup membekas di ingatan Sang Pangeran. Banyak sumber mengatakan, Pangeran Philip secara khusus menghampiri Agus Salim di pengujung acara penobatan. Dia memperkenalkan Agus Salim kepada Ratu Elizabeth II. 

Kisah diplomasi kretek antara Agus Salim dan Pangeran Philip masih menjadi cerita menarik hingga saat ini.

Agus Salim wafat di Jakarta, 4 November 1954 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Almarhum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 657 Tahun 1961 pada 27 Desember 1961.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut