Kisah Sosrokartono, Sarjana Pertama Indonesia yang Kuasai 26 Bahasa
JAKARTA, iNews.id - Menempuh pendidikan merupakan hal cukup sulit dilakukan di zaman dahulu. Namun, Sosrokartono berhasil menjadi seorang sarjana pertama di Indonesia. Berikut kisahnya.
Sosrokartono lahir dengan nama lengkap Raden Mas Panji Sosrokartono di Pelemkerep, Mayong, Jepara, Jawa Tengah pada 10 April 1877. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang pintar dan bisa membaca masa depan.
Melansir buku 'OM SOS Drs RMP Sosro Kartono Seorang Intelektualis Nasionalis Sprititualis' karya Anang Susetya, pada umur 3 tahun Sosrokartono pernah bertingkah aneh saat bermain. Ia secara tiba-tiba berhenti dan menyimpan mainannya.
Ia mengaku tidak mau bermain lagi karena keluarganya akan pindah ke Jepara. Mendengar hal itu, ibunya terheran-heran karena tidak ada rencana untuk pindah.
Namun, hal yang dikatakan Sosrokartono menjadi kenyataan. Sebab, sang ayah tiba-tiba saja diangkat menjadi Bupati Jepara pada tahun 1881.
Pada usia 7 tahun, Sosrokartono masuk sekolah Europesce Lagere School di Jepara. Sekolah ini dibangun untuk anak-anak Belanda dari lingkungan pemerintah. Namun, anak-anak Indonesia dari kalangan Pangreh praja tertinggi juga diperbolehkan masuk di sini.
Kemudian, pada tahun 1882 ia berhasil lulus dan langsung melanjutkan pendidikannya di Hogere Barger School di Semarang. Bahkan, untuk membiasakan diri dengan budaya Eropa ia sempat mondok atau tinggal bersama keluarga Belanda.
Selama menempuh pendidikan itu, Sosrokartono gemar membaca buku berbobot, seperti kitab Jawa Kuno tentang kesusasteraan dan keagamaan, sastra Yunani hingga syair Virgilius yang terkenal. Oleh karena itu, ia cepat menguasai bahasa asing.
Sosrokartono memiliki tiga adik perempuan, salah satunya adalah Raden Ajeng Kartini. Setiap pulang ke Jepara, Sosrokartono sering membawa buku-buku ilmu pengetahuan Barat atau majalah Belanda untuk dibaca dan didiskusikan bersama Kartini.
Dari sini lah, Kartini banyak belajar ilmu pengetahuan Barat. Kakaknya, Sosrokartono yang paling memerhatikan dan menyayangi Kartini karena kecerdasan dan kepandaiannya.
Pada tahun 1897 atau usai tamat dari HBS di Semarang, Sosrokartono memutuskan berangkat kuliah ke Belanda. Ia melanjutkan pendidikannya di Technische Hogeschool di kota Delf jurusan Teknik.
Kala itu, Sosrokartono merupakan mahasiswa Indonesia pertama di Belanda. Bahkan, ia dipercaya menjadi anggota sebuah lembaga yang mempelajari dan meneliti kebudayaan suku bangsa Nusantara.
Sayang, selama mengikuti kuliah di sana ia merasa tidak sepenuh hati. Sebab, hatinya selalu tertarik pada sastra dan bahasa. Oleh karena itu, pada 1899 ia pindah ke Leiden dan kuliah di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universitas Leiden.
Berkat hal itu, dalam waktu enam bulan saja ia mampu menguasai bahasa Yunani dan latin sehingga lulus dalam ujian negara dan fakultas tersebut. Dua tahun kemudian, ia juga menjadi sarjana muda di jurusan Kesusastraan Indonesia tahun 1901.
Dengan berbagai perjuangan dan semangat, akhirnya pada 8 Maret 1908, Sosrokartono berhasil lulus ujian Doktoral lengkap. Ia bahkan menguasai 26 bahasa, yaitu 17 bahasa Barat dan 9 bahasa Timur.
Editor: Puti Aini Yasmin