Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ngenes! Komdigi Akui Banyak Anak Indonesia Manipulasi Usia di Medsos
Advertisement . Scroll to see content

Komdigi: Pemerintah Komitmen Jaga Ekosistem Pers Sehat di Tengah Disrupsi Teknologi

Jumat, 06 Februari 2026 - 10:07:00 WIB
Komdigi: Pemerintah Komitmen Jaga Ekosistem Pers Sehat di Tengah Disrupsi Teknologi
Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Komdigi Fifi Alyeda Yahya. (Foto: Dok. Dewan Pers)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan komitmen pemerintah untuk menjaga ekosistem pers yang sehat di tengah disrupsi teknologi dan tekanan ekonomi yang kian berat. Sebagai pilar demokrasi, pers yang berkelanjutan merupakan kepentingan bersama.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Komdigi Fifi Aleyda Yahya mengatakan pemerintah berkomitmen hadir melalui regulasi mulai dari UU Pers, UU Penyiaran, hingga aturan di ranah digital demi memastikan ekosistem media yang sehat, berkeadilan, dan berintegritas.

"Pemerintah berkomitmen untuk terus menjadi mitra dalam menjaga ekosistem pers yang sehat, pers yang mampu bertahan secara ekonomi, tetap independen secara editorial, dan dipercaya oleh publik karena pers yang kuat dan berintegritas bukan hanya kebutuhan industri melainkan fondasi penting bagi masyarakat yang demokratis dan berdaya," kata Fifi dalam Outlook Media 2026 bertajuk 'Memandang Masa Depan Media: Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas di Era Hiper-konektivitas' yang digelar Dewan Pers, Kamis (5/2/2026).

Meski begitu, dia menegaskan pentingnya menjaga integritas jurnalistik. Hal ini tak terlepas dari dilema nyata yang dihadapi insan pers yakni antara mengejar kecepatan (viral) atau mempertahankan ketepatan (verifikasi).

"Informasi kini bergerak dalam hitungan detik dan algoritma sangat memengaruhi apa yang kita lihat. Kecepatan kerap lebih dihargai daripada ketepatan, dan viral seringkali lebih menarik dibandingkan verifikasi," ujarnya.

Dia menjelaskan pemerintah menyadari perubahan industri periklanan telah mengubah peta bisnis media. Saat ini, keputusan iklan banyak ditentukan oleh angka-angka performa jangka pendek seperti klik, impresi, dan engagement. 

Hal ini menciptakan tantangan besar bagi kesejahteraan pekerja media dan eksistensi perusahaan pers.

"Media menghadapi dilema yang nyata, bertahan hidup atau menjaga kualitas, mengejar klik atau menjaga kepercayaan, mengikuti arus atau tetap memegang kompas," tutur dia.

Namun, dia menekankan integritas bukanlah penghalang bagi pesatnya kemajuan teknologi. Di era hiper-konektivitas, integritas berarti tahu kapan harus bergerak cepat dan kapan harus berhenti sejenak untuk konfirmasi.

Dia meyakini kepercayaan publik bukan hanya sekadar nilai etis, melainkan aset ekonomi yang krusial. Media yang terpercaya diyakini akan memiliki audiens yang lebih loyal, reputasi yang kuat, dan posisi tawar yang lebih baik di masa depan.

"Batas ini memang tidak selalu nyaman, tapi justru di sanalah kepercayaan publik terbangun," tutur dia.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut