Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Mayoritas Harga Pangan 4 November 2026 Turun, Cabai dan Telur Ayam Ikut Murah
Advertisement . Scroll to see content

Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.168 per Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 - 15:50:00 WIB
Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.168 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah 8 poin atau 0,04 persen ke level 18.168 per dolar AS pada perdagangan, Rabu (4/11/2026). (Foto: Dok. IMG)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Rabu (4/11/2026). Rupiah melemah 8 poin atau 0,04 persen ke level 18.168 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar saat ini tertuju terhadap hasil pemilihan paruh waktu AS. Penghitungan suara sedang berlangsung dalam pemilihan paruh waktu AS, untuk sementara Partai Demokrat resmi memenangkan Senat Amerika Serikat dengan 51 kursi sejauh ini dalam pemilu paruh waktu.

“51 kursi adalah batas minimal suara mayoritas di Senat AS. Partai Republik hanya mendapatkan 39 kursi di Senat sejauh ini, dengan beberapa suara masih dalam proses penghitungan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Pasar terus memantau perkembangan dalam upaya mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran, sementara Qatar meningkatkan upaya mediasi guna mencegah eskalasi serangan setelah pemilihan paruh waktu AS.

Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan kepada Reuters pada hari Selasa bahwa Iran dan Amerika Serikat masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik di antara mereka.

Seorang pejabat AS menyatakan pada hari Selasa bahwa Amerika telah melancarkan serangan yang bersifat "defensif" di Pulau Qeshm, Iran, dengan menyasar rudal darat-ke-udara yang digunakan untuk melawan aset-aset AS. Pejabat lainnya menyebutkan bahwa serangan tersebut tampak terbatas dan tidak menandakan kembalinya operasi tempur berskala besar.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Financial Times pada hari Selasa bahwa AS tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk menyerang Iran. 

Dari sentimen domestik, Pelaku pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali melambat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya suku bunga yang masih membebani biaya pinjaman, sementara tekanan harga kebutuhan pokok mengurangi daya beli masyarakat. Akibatnya, konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha berpotensi mengalami perlambatan.

Di sisi lain, proyeksi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya berada di kisaran 5,4-5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6-6 persen menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah.

“Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi. Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat,” ucap Ibrahim.

Secara bersamaan, ketegangan politik meningkat setelah tiga perwira tinggi Polri ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, dan pengusaha. Salah satu yang terseret adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Kasus ini masih dalam proses penyidikan sehingga dugaan keterlibatan para tersangka perlu dibuktikan melalui proses hukum.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.160-Rp18.210 per dolar AS.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut