Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Panas Lagi! Iran Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz
Advertisement . Scroll to see content

Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.722 per Dolar AS

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:41:00 WIB
Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.722 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah melemah 29 poin atau sekitar 0,16 persen ke level Rp17.722 per dolar AS pada perdagangan, Senin (31/8/2026). (Foto: Dok. iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Senin (31/8/2026). Rupiah terkoreksi 29 poin atau sekitar 0,16 persen ke level Rp17.722 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran yang terletak di Selat Hormuz, pada hari Minggu. Ini merupakan serangan pertama yang diketahui dilakukan oleh pihak AS terhadap negara Teluk tersebut sejak akhir Juli.

“Sebagai tanggapan, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, demikian dilaporkan media Iran pada hari Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Negosiasi untuk mengakhiri konflik sedang menemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa AS kemungkinan akan memberlakukan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap minggunya, dengan tujuan memutus total akses Republik Islam tersebut dari sistem keuangan berbasis dolar.

Pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole menekankan bahwa fokus utama bank sentral saat ini seharusnya adalah stabilitas harga, yang mendorong pasar untuk meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan September. Warsh masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen. 

Warsh menyatakan bahwa The Fed perlu yakin bahwa inflasi inti bergerak menuju targetnya, seraya menambahkan bahwa jika tidak demikian, para pembuat kebijakan masih memiliki pekerjaan rumah. 

Dari sentimen dalam negeri, ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). 

Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi terhadap skema subsidi dan kompensasi energi. Adapun, hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat telah mencapai sekitar Rp233 triliun.

Angka tersebut diperkirakan masih akan meningkat hingga akhir tahun dan berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap fiskal pada 2027.

Besarnya risiko subsidi energi Indonesia tidak terlepas dari ketergantungan terhadap sejumlah faktor eksternal, terutama harga energi global dan nilai tukar rupiah. Terdapat tiga variabel utama yang menentukan besaran subsidi energi. Misalnya seperti harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik.

Pada saat yang sama, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi.

Subsidi dan konpensasi energi sampai akhir tahun subsidi dan kompensasi ini akan meningkat hingga Rp526 triliun. Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berada di kisaran Rp338 triliun.

Selain itu, pemerintah Presiden Prabowo Subianto mempersiapkan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 lebih tinggi dibandingkan perkiraan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.720-Rp17.780 per dolar AS.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut