LPOI Inisiasi Konsolidasi Dunia Islam, Serukan Perdamaian Global
JAKARTA, iNews.id - Gagasan besar tentang perdamaian dunia kembali digaungkan. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan konflik antarnegara, konsolidasi dunia Islam dinilai menjadi langkah mendesak untuk mendorong terciptanya peradaban yang lebih humanis dan berkelanjutan.
Perdamaian dan peradaban humanis disebut sebagai cita-cita bersama seluruh bangsa. Harapan itu bukan sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan global agar kehidupan yang penuh kemaslahatan dapat terus terjaga lintas generasi.
Sebagai langkah konkret, asosiasi ormas Islam Indonesia, Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mengambil inisiatif memperkuat gerakan people to people antarbangsa. Upaya ini bertujuan mempererat nilai Islam sebagai Rahmatan Lil Aalamiin (rahmat bagi semesta), sekaligus merajut persaudaraan sesama muslim maupun sesama manusia.
Pada 1 Mei, konsolidasi tersebut diwujudkan melalui dialog publik dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara LPOI dan Muassasah Risalatussalam Al Alam yang berbasis di Mesir. Kegiatan ini berlangsung di Pesantren Al Tsaqofah, dihadiri para tokoh penting, santri, serta delegasi internasional.
Delegasi dari Mesir dipimpin oleh Majdy Thontowy bersilaturahmi langsung dengan pimpinan LPOI, Said Aqil Siroj. Turut mendampingi, Sekjen LPOI Gus Imam Pituduh, Bendahara Umum, serta jajaran pengurus lainnya.
LPOI Serukan Setop Perang, Dukung Prabowo jadi Mediator
Dalam kesempatan itu, Said Aqil Siroj menekankan pentingnya langkah cepat dalam menyatukan kekuatan dunia Islam di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Kini saatnya konsolidasi dunia Islam wajib untuk disegerakan. Perjuangan untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan Peradaban global yang menjunjung tinggi nilai Islam Rahmatan lil Alamiin yang damai dan menyejukkan, serta memberi manfaat bagi kemanusiaan dan keberlangsungan kehidupan, harus terus digaungkan. Perdamaian dan peradaban humanis harus menjadi pilar utama perjuangan kaum muslimin sepanjang masa. Islam hadir disemua peradaban di dunia dengan misi salam (misi perdamaian) dan misi insan kamil mukamil (the perfect human being) misi kemanusiaan yang memanusiakan manusia. Oleh karenanya dialog peradaban yang bernafaskan spirit perdamaian dan peradaban humanis harus segera digelar, agar ketegangan geopolitik tidak mengarah pada pecahnya perang dunia ke tiga yang lebih parah dan lebih menghancurkan," ujar Said Aqil dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).
LPOI Peringatkan Krisis Ekologi dan Turbulensi Global Ancam Indonesia
Dia juga menyoroti pentingnya peran global dalam meredam konflik yang berpotensi meluas. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi lintas negara dan aktor strategis, baik dari pemerintah maupun non-pemerintah.
“Kesadaran global dan partisipasi lintas negara harus digalang, agar konflik global segera berakhir. Dibutuhkan terobosan strategis yang mampu mengkompromikan berbagai perbedaan kepentingan dan dibutuhkan pula juru damai terpercaya yang bisa di terima secara global. State and non-state actor harus bekerja bersama untuk menghimpun kekuatan strategis yang mampu mendamaikan atau setidaknya agar konflik tidak meluas dan mengarah pada kehancuran total. Pararel dengan hal tersebut, tidak dibenarkan atas nama apapun melakukan penjajahan diatas dunia dan tidak dibenarkan atasnama apapun menindas dan mendiskeditkan suatu negara dan suatu bangsa. Oleh karenanya tindakan provokatif dan intimidasitif serta pelanggaran-pelanggaran hukum internasional yang berpotensi memicu meningkatnya eskalasi, harus segera di hentikan. Di ruang ini Indonesia sangat berpotensi menjadi konsolidator Perdamaian Dunia dan peran ini harus diambil dengan langkah-langkah strategis yang berdampak nyata," ucapnya.
LPOI Akui Kemajuan China Jadi Inspirasi Global, Termasuk Dunia Islam
Lebih jauh, Said Aqil menegaskan konsolidasi ini tidak berhenti pada lingkup internal umat Islam, melainkan menjadi pintu masuk menuju dialog lintas iman secara global.
Dia menekankan pentingnya pewarisan nilai-nilai perdamaian kepada generasi mendatang, serta mendorong peran aktif para agamawan dalam merespons dinamika global.
“Kerja bersama semua pihak, khususnya untuk mewariskan nilai-nilai perdamaian dan peradaban Humanis kepada lintas generasi, harus terus dilakukan. Spirit Islam yang memihak pada perdamaian dan juga memihak kepada kaum tertindas harus disebar luaskan. Konsolidasi Dunia Islam Untuk Perdamaian dan Peradaban Humanis harus dilihat sebagai langkah awal (starting point) untuk selanjutnya dilakukan konsolidasi lintas iman (interfaith consolidation), karena kerja-kerja perdamaian dan peradaban humanis adalah tanggung jawab Bersama warga dunia dan harus dilakukan oleh semua pihak dengan tanpa terkecuali. Konsolidasi harus dilakukan secepatnya agar langkah untuk membangun peradaban masa depan tidak terlambat. Sekali lagi kami tegaskan dunia Butuh pendekatan baru 'Spritual and Natural lifestyle'. Hal ini harus segera digerakkan oleh kaum agamawan. Kaum Agamawan tidak boleh hanya menjadi penonton atas realitas global dan tidak boleh hanya bertopang dagu saja," tutur dia.
Sementara itu, Sekjen LPOI Gus Imam Pituduh menjelaskan kerja sama dengan Risalatussalam Al Alam akan difokuskan pada lima program strategis, mulai dari diplomasi budaya hingga penguatan riset dan pendidikan.
“Kerja sama LPOI dengan Risalatussalam Al Alam berfokus pada program diplomasi budaya dan peradaban Islam dakwah transnasional berbasis narasi moderasi pengembangan riset, publikasi dan pusat studi, pertukaran Indonesia-Mesir, pendidikan formal dan informal," ucapnya.
Menurut dia, visi kerja sama ini didedikasikan untuk membangun ekosistem global pemikiran Islam moderat yang berpengaruh dan berkelanjutan dengan sasaran strategis untuk peningkatan sumberdaya manusia, penguatan jaringan internasional dan kontribusi nyata dalam perdamaian global.
Sementara itu, Majdy Thontowy menyambut kerja sama ini dengan optimisme tinggi. Dia bahkan mengundang LPOI untuk melanjutkan dialog peradaban di Mesir sebagai tindak lanjut konkret.
“Sebagai langkah kongkrit dari kerjasama ini kami akan mengundang pihak LPOI di bawah pimpinan Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA ke Mesir untuk melakukan dialog peradaban, memberikan beasiswa studi ke Mesir untuk para santri, melakukan publikasi karya ilmiah bersama, dan juga melakukan kerja-kerja perdamaian yang diharapkan dapat berdampak nyata bagi kemaslahatan kehidupan global," kata dia.
Dia menegaskan peran strategis Indonesia dan Mesir dalam membentuk masa depan peradaban Islam dunia.
“Bahwa Indonesia dan Mesir akan menjadi episentrum peradaban Islam di masa depan. Peran serta keduanya dalam menjadi juru damai dan mendamaikan konflik global sangat dinantikan semua warga dunia. Islam harus selalu hadir menjadi rohmat bagi semuanya dan saatnya tunjukkan kepada dunia bahwa cita diri Islam itu adalah citra diri yang humanis, ramah, damai, dan toleran, seperti wajah Islam di Indonesia yang ramah, damai, dan toleran," ucap dia.
Editor: Rizky Agustian