Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono: OPM Harusnya Masuk List Organisasi Teroris Internasional

Felldy Utama ยท Senin, 23 Desember 2019 - 18:53 WIB
Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono: OPM Harusnya Masuk List Organisasi Teroris Internasional

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono. (Foto: iNews.id/Felldy Utama)

JAKARTA, iNews.id - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menyebut seharusnya Organisasi Papua Merdeka (OPM) sudah masuk daftar organisasi teroris Internasional. Dia mendesak pemerintah Indonesia menyerukan hal tersebut dalam diplomasi Internasional.

Menurut Hendro, dalam operasinya saat ini OPM tidak hanya membunuh para tentara ataupun polisi yang menjaga kedaulatan negara. Namun, organisasi sparatis itu dinilai juga telah membunuh rakyat Papua di sana.

Dia berharap pemerintah Indonesia mau melaporkan aksi anarkistis dari OPM agar masuk dalam daftar organisasi terlarang. "Kenapa kita enggak ke Forum Internasional, di Forum Internasional mestinya OPM itu sudah masuk ke list teroris Internasional. Itu (OPM) usahakan masuk di situ, supaya seluruh negara merujuk ke situ," kata Hendro, di Kawasan Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (23/12/2019).

Mantan Pangdam Jaya ini juga berharap agar organisasi sparatis itu tak disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dia menilai organisasi tersebut lebih tepat disebut sebagai pemberontak.

"Kita masih saja menganggap mereka KKB, kelompok kriminal bersenjata, bukan. Mereka ini adalah pemberontak. Masalah ini bukan kriminal saja, kalau kita terus berpegang di situ kenapa kita majukan tentara," ujarnya.

Hendro meminta kepada pemerintah dan aparat penegak hukumnya untuk lebih fokus menuntaskan permasalahan konflik di Papua. Menurut dia, butuh keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini.

"Ya saya harapkan semua segera yang serius tangani. Jangan cuma jalan-jalan saja. Ini mulai masalah teknis di lapangan sampai politik Internasional harus terintegrasi sejak perencanaan sampai operasi," katanya.


Editor : Djibril Muhammad