Masih Loyo, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS
JAKARTA, iNews.id -Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (27/10/2026). Nilai tukar rupiah turun 21 poin atau sekitar 0,12 persen ke level 18.156 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni upaya diplomatik terkini berfokus pada pembicaraan yang melibatkan Iran, Arab Saudi, Turki dan Pakistan. Sementara para pejabat Qatar juga telah menjalin komunikasi dengan Teheran dalam upaya mencegah meluasnya konflik.
Menurut sejumlah laporan, pembahasan tersebut mencakup serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, kemungkinan diadakannya pembicaraan antara AS dan Iran, gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz, serta blokade yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Upaya diplomatik ini telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut, tetapi para investor tetap bersikap hati-hati terkait apakah upaya tersebut akan menghasilkan de-eskalasi yang langgeng.
Presiden Donald Trump juga tetap membuka kemungkinan untuk melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran, sementara pihak Teheran menyatakan bahwa negosiasi dengan Washington memerlukan konsesi tertentu, termasuk penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Risiko terhadap pasokan tetap cukup besar. Konflik dengan Iran telah mengganggu pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, dua jalur penting bagi perdagangan energi global.
Dari sentimen dalam negeri, pemerintah memastikan pasokan bahan bakar tetap memadai; stok bahan bakar bersubsidi cukup untuk kebutuhan 16-18 hari, sementara persediaan jenis bahan bakar lainnya berada di atas ketentuan minimum.
Pernyataan pemerintah mengenai kecukupan stok BBM memberikan indikasi bahwa risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dapat dikelola. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin bahwa APBN terbebas dari tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia.
Kebijakan yang perlu diperhatikan mencakup pengelolaan cadangan energi, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran, pengendalian konsumsi energi, serta pengelolaan risiko harga minyak dan nilai tukar. Selain itu, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan merupakan persoalan ekonomi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi.
Secara ekonomi, kenaikan harga pangan dapat mendorong inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation), khususnya apabila kenaikan tersebut disebabkan oleh gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi yang tidak lancar, atau meningkatnya biaya transportasi dan pupuk.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.150-Rp18.200 per dolar AS.
Editor: Reza Fajri