Mendikdasmen Ungkap 3 Penyebab Utama Banyak Sekolah Kekurangan Murid
JAKARTA, iNews.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkap cukup banyak sekolah dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) yang kekurangan murid atau jumlah peserta didik di bawah 100 orang.
Abdul Mu'ti menyebut, pihaknya saat ini tengah memetakan persoalan tersebut dan menyiapkan solusi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menyebabkan banyak sekolah mengalami kekurangan murid.
"Yang pertama memang ada keterbatasan jumlah anak usia sekolah, khususnya anak-anak SD. Sekarang jumlah anak usia sekolah itu tidak cukup banyak dan penyebabnya tentu sangat-sangat kompleks ya, tapi intinya keterbatasan jumlah anak usia sekolah," ujar Mu'ti di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Faktor kedua, berkaitan dengan banyaknya sekolah dasar yang dibangun pemerintah Orde Baru untuk memperluas akses pendidikan dasar. Program pembangunan SD Inpres membuat hampir setiap desa memiliki sekolah dasar, bahkan dalam sejumlah kasus terdapat lebih dari satu sekolah di satu desa.
"Sehingga setiap desa itu minimal punya satu sekolah dasar, SD Inpres, yang sebelumnya sudah ada sekolah yang berdiri sebelumnya. Sehingga mungkin satu desa bisa memiliki lebih dari satu sekolah dasar. Sehingga memang jumlahnya menjadi sangat banyak," kata dia.
Ketiga, perubahan preferensi sebagian keluarga muda yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Menurutnya, sebagian orang tua menilai kualitas pendidikan di sekolah swasta lebih baik, sementara sebagian lainnya mempertimbangkan faktor kedekatan lokasi sekolah dengan tempat tinggal.
"Memang ada tren, keluarga-keluarga muda khususnya, bahkan mungkin keluarga kelas menengah muda, itu cenderung untuk anaknya belajar di sekolah swasta. Alasannya berbagai macam. Saya sempat bertanya sebagiannya karena menganggap belajar di swasta itu mutunya lebih baik," tuturnya.
Menghadapi beragam persoalan tersebut, Kemendikdasmen telah memulai pembahasan dengan Kemendagri untuk merumuskan langkah penanganan yang lebih menyeluruh. Salah satu opsi yang dikaji adalah penggabungan sekolah dengan jumlah murid yang sangat sedikit.
Namun, Mu'ti menyebut kebijakan tersebut tidak bisa dilakukan secara sederhana karena berkaitan dengan penataan guru dan mekanisme mutasi tenaga pendidik.
"Nah terkait dengan masalah ini, kami sudah ada pembicaraan awal dengan Pak Mendagri untuk mencari solusi yang komprehensif. Karena masalahnya tidak sekadar bagaimana sekolah-sekolah yang muridnya sedikit itu dimerger, tapi terkait dengan tugas guru. Karena kalau sekolahnya dimerger kan otomatis gurunya harus dimutasikan juga," ucapnya.
Dia berharap pada tahun ajaran baru mendatang pemerintah sudah memiliki keputusan terkait penanganan sekolah-sekolah yang jumlah siswanya sangat sedikit.
"Tapi paling tidak nanti pada tahun ajaran baru tahun depan, sudah ada keputusan mengenai bagaimana sekolah-sekolah yang muridnya sangat sedikit," katanya.
Editor: Aditya Pratama