Mentan Ungkap Praktik Curang Perusahaan Beras Raup Rp2 Triliun per Bulan, Begini Modusnya
JAKARTA, iNews.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan praktik curang perusahaan beras hingga meraup keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan. Modusnya, beras berkualitas rendah seharga Rp8.000 dipoles dan diberi label premium, lalu dijual kepada masyarakat dengan harga Rp17.000 per kilogram.
"Ada satu grup, itu untungnya Rp2 triliun. Nah kita hitung, ini jadi bukan keuntungan, ya, ini penipuan, perampokan yang hitungan Rp98 triliun," kata Amran dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Amran juga memaparkan besarnya nilai ekonomi yang menopang produksi padi nasional. Menurut dia, terdapat alokasi anggaran hingga Rp537 triliun untuk menopang nilai produksi padi nasional, seiring produksi beras yang mencapai 34,69 juta ton.
Namun, pembagian nilai ekonomi dalam rantai pasok beras dinilai belum merata. Dari alokasi Rp215 triliun yang berputar di tingkat bawah, pendapatan setiap rumah tangga petani disebut hanya mencapai Rp1,87 juta.
Di sisi lain, pengusaha penggilingan atau rice milling unit (RMU) memperoleh porsi lebih besar hingga Rp259 triliun. Temuan pengawasan Kementan juga menyoroti kualitas beras yang beredar dengan label premium. Hasil inspeksi menunjukkan 85,56 persen sampel beras premium tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Dari total beras berlabel premium yang beredar di masyarakat, sebanyak 39,75 persen atau sekitar 12,2 juta ton diperkirakan tidak memenuhi standar mutu. Kondisi tersebut diperkirakan menimbulkan nilai kerugian hingga Rp98 triliun.
Kementan juga menemukan beras dengan kategori di bawah medium dipasarkan seolah-olah memenuhi standar premium yang ditetapkan pemerintah. Salah satu ketentuan mutu yang disoroti terkait batas kadar beras patahan atau pecahan maksimal 14,5 persen.
"Saya contohkan nih, dia menjual emas mengatakan 24 karat, padahal 18 karat. Itu namanya apa? Penipuan. Penipuan ini harusnya (harga beras) Rp8.000 harganya, standar, ya, tetapi dijual Rp17.000," ujar Amran
.Menurutnya, struktur industri beras nasional saat ini dikuasai empat grup korporasi besar. Dia menegaskan perusahaan yang dimaksud bukan sekadar pabrik beras skala kecil, melainkan grup korporasi besar yang memiliki pengaruh signifikan dalam industri.
"Empat grup ini, dibagi Rp100 triliun, 25 kan? 25 dibagi 12, Rp2,08 triliun. Rp2,08 triliun per bulan berarti Rp24 triliun per tahun satu perusahaan itu," tegas Amran.
Editor: Puti Aini Yasmin