Menteri Edhy Prabowo Tolak Pakai Ventilator saat Perawatan Covid-19, Ini Alasannya
JAKARTA, iNews.id - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sempat dirawat di ruang ICU RSPAD Gatot Soebroto pada September lalu akibat terpapar Covid-19.
Dia sebenarnya tak mau dirawat di ICU karena merasa kondisinya cukup baik, namun menerima keputusan itu karena yakin dokter punya pertimbangan lain.
"Dokter paru memerintahkan kami dipindah ke ICU, padahal saya belum merasa (kondisi buruk). Cuma saya percaya dokter punya alasan agar lebih intensif," ujarnya, dalam pernyataan di akun Instagram, Minggu (11/10/2020).
Ternyata bukan hanya itu, di ruang ICU Edhy diminta menggunakan ventilator. Namun karena merasa belum kesulitan bernapas, dia pun menolak dan bersedia menandatangani perjanjian.
"Satu hal tentang saat itu, saya harus pakai ventilator. Saya enggak mau. Saya ditawarkan ventilator dan saya tolak, karena saya merasa belum perlu," tuturnya.
Menurut dia, logika saat itu mengatakan penyakitnya bisa dihadapi sendiri karena masih dalam kondisi sadar.
"Karena (pakai) ventilator harus dipingsankan lebih dulu. Saya enggak nyaman kalau pingsan. Saya enggak bisa melawan, enggak bisa memotivasi diri," tuturnya.
Hal lain yang dia rasakan adalah tidak nafsu makan. Namun dia melawan rasa itu dengan tetap memaksakan makanan masuk ke mulut.
"Alhamdulillah saya sudah mampu melewati masa kritis," ujarnya.
Meski sudah pulih, Edhy mengaku kondisinya belum stabil sepenuhnya. Dia masih harus latihan bernapas karena kondisi paru-parunya belum normal.
"Memang belum sempurna saya sembuh, karena napas masih harus dilatih. Itu yang saya bilang, jangan kena Covid, apalagi harus dirawat di ICU. Kenapa? enggak enak sisanya, harus perbaikan lagi. Paru-paru saya dalam posisi belum begitu normal, sehingga jalan agak lama, terengah-engah. Naik tangga terengah-engah. Tapi kata dokter ini adalah proses penyembuhan. Jadi jangan khawatir," ungkap Edhy.
Edhy menjelaskan, kunci kesembuhan yang paling utama adalah menjaga pikiran agar tidak stress. Dengan demikian kesembuhan dapat diraih.
"Satu hal yang menyelamatkan kita adalah psikis. Jadi kita harus tetap semangat gembira, tapi juga waspada," tuturnya.
Editor: Anton Suhartono