Momen Haru Sang Ayah Bersimpuh Peluk Siti Aisyah
JAKARTA, iNews.id, - Isak haru mewarnai pertemuan Siti Aisyah dan keluarganya. Dibalut rindu karena dua tahun tak bersua, sang ayah bahkan bersimpuh dan memeluk erat-erat anaknya.
Air mata Asria, ayah Siti Aisyah pun meleleh. Benah, sang ibu, juga turut terharu. Dipeluk pula anak perempuannya itu seolah tak mau berpisah.
Momen itu terjadi di kantor Kementerian Luar Negeri. Aisyah yang tiba dari Bandara Halim Perdanakusuma dipertemukan dengan kedua orangtuanya. Ini pertemuan pertama setelah dua tahun sejak dia ditangkap atas tuduhan kasus pembunuhan kakak tiri Kim Jong Un, Kim Jong Nam.
Begitu terharunya, Asria nyaris tak sanggup berkata-kata. Ketika Asria diberikan kesempatan untuk memberi kata sambutan, suaranya tercekat. Berkali-kali dia mengungkapkan rasa terima kasih karena sudah bisa bertemu kembali dengan sang anak.
"Saya beribu-ribu terima kasih atas bantuan pemerintah, atas bantuan apa pun baik yang besar dan yang kecil. Terima kasih dengan pemerintah kita sudah membantu, sudah membebaskan anak saya," kata Asria di kantor Kemenlu, Senin (10/3/2019).
Dia juga mengapresiasi atas kinerja yang dilakukan presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang telah membantu memberikan pendampingan hukum terhadap anaknya.
"Mudah-mudahan pemerintah kita jaya terus. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi terus Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla, amin Ya Allah," katanya.
Siti Aisyah lolos dari hukuman mati setelah Hakim Pengadilan Tinggi Shah Alam, Malaysia membebaskan perempuan asal Serang, Banten itu dari segala tuntutan atas dugaan pembunuhan Kim Jong-nam.
Keputusan itu diambil setelah hakim menyetujui permintaan jaksa penuntut yang membatalkan dakwaan terhadap Siti Aisyah.
"Siti Aisyah dibebaskan. Dia bisa pergi sekarang," kata hakim Azmin Ariffin, di Pengadilan Tinggi Shah Alam, seperti dilaporkan AFP.
Sore tadi Siti tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. Usai menggelar konferensi pers bersama Menkumham Yasonna H Laoly, dia Siti menuju Kementerian Luar Negeri.
Editor: Zen Teguh