Nasib 9 Calon Kepala Daerah Tersangka Kasus Korupsi di Pilkada 2018
PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) 2018 baru saja dilaksanakan secara serentak di 17 provinsi dan 152 kabupaten kota di Indonesia, Rabu (27/6/2018). Dalam hajatan demokrasi tersebut, para kandidat dengan berbagai latar belakang politik bersaing untuk meraih kursi pimpinan di daerah masing-masing.
Dari 171 daerah yang menggelar pilkada Rabu lalu (minus Kabupaten Nduga dan Kabupaten Paniai di Papua yang pilkadanya terpaksa ditunda karena sejumlah alasan), ada delapan daerah yang layak untuk diperhatikan. Kedelapan daerah itu adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Maluku Utara, Provinisi Lampung, dan Kabupaten Subang di Jawa Barat. Selanjutnya ada Kabupaten Jombang, Kota Malang, dan Kabupaten Tulungagung—yang kesemuanya berada di Jawa Timur.
Delapan daerah itu menjadi menarik untuk dibahas lantaran calon kepala daerahnya ada yang tersandung kasus rasuah sehingga ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jumlah mereka ada sembilan orang: tujuh di antaranya berasal dari daerah yang berbeda, sedangkan dua lagi dari daerah yang sama yaitu Kota Malang.
Para kandidat kepala daerah yang menerima status tersangka dari KPK itu adalah calon gubernur NTT Marianus Sae, calon gubernur Sulawesi Tenggara Asrun, calon gubernur Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus, calon gubernur Lampung Mustafa, dan calon bupati Subang Imas Aryumningsih. Selanjutnya ada calon bupati Jombang Nyono Suharli, calon wali kota Malang Yaqud Ananda Gudban, calon bupati Tulungagung Syahri Mulyo, dan calon wali kota Malang Mochamad Anton.
Meski belum ada pengumuman resmi terkait hasil penghitungan suara riel (real count) dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, beberapa lembaga sudah mengeluarkan hasil hitung cepat (quick count) di masing-masing daerah tersebut. Hasilnya, ada kandidat kepala daerah yang menang, walau sudah dijadikan tahanan oleh KPK sekalipun. Namun, tidak sedikit pula di antara mereka yang menunai kekalahan.
Seperti apa nasib para politikus tersangka kasus korupsi itu di Pilkada 2018—jika dilihat berdasarkan hasil hitung cepat yang ada? Berikut ulasannya!
Bupati Ngada nonaktif Marianus Sae (tengah) bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Rabu (30/5/2018). (Foto: ANTARA/Aprillio Akbar)
1. Marianus Sae
Perolehan suara tertinggi di Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT diraih oleh pasangan Viktor B Laiskodat-Josef Naesoi. Pasangan yang diusung Partai Golkar, Hanura, dan Nasdem itu meraih 35,17 persen suara, berdasarkan hitung cepat KPU per Jumat (29/6/2018) pukul 05.00 WIB. Sementara, Marianus Sae yang berpasangan dengan Emelia Julia Nomleni (PDIP dan PKB) berada di posisi kedua dengan 25,33 persen suara. Selanjutnya, disusul pasangan Benny K Harman-Benny Litelnoni (Demokrat, PKS, PKPI) sebanyak 19,05 persen suara, lalu Esthon Foenay-Christian Rotok (Gerindra, PAN) dengan 20,46 persen suara.
Marianus Sae saat ini adalah bupati nonaktif Ngada, NTT. KPK menetapkannya sebagai tersangka tindak pidana korupsi terkait proyek-proyek di lingkungan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat.
2. Asrun
Lembaga survei The Haluoleo Institute merilis hasil hitung cepat Pilkada Sulawesi Tenggara, Rabu (27/6/2018). Hasil hitung lembaga itu menyatakan kemenangan pasangan urut satu Ali Mazi-Lukman Abunawas dengan persentase perolehan suara di atas 42,72 persen.
Posisi runner up ditempati pasangan nomor urut tiga, Rusda Mahmud-Sjafei Kahar, sebanyak 32,22 persen suara. Sementara, pasangan nomor urut dua Asrun-Hugua, berada di urutan terbawah karena hanya mampu menangguk 25,07 persen suara.
Direktur The Haluoleo Institute, Naslim Sarlito Alimin mengatakan, hasil perhitungan cepat itu berasal dari 308 sampel TPS dari total 4.909 TPS se-Sultra.
Asrun bersama anaknya, Adriatma Dwi Putra—yang juga wali kota Kendari—terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Kendari pada Februari lalu. Keduanya ditahan atas dugaan kasus suap senilai Rp2,8 miliar.
3. Ahmad Hidayat Mus
Hitung cepat KPU hingga Jumat (29/6/2018) pukul 04.28 WIB menunjukkan, Ahmad Hidyat Mus (diusung Golkar dan PPP) mendapat 30,98 persen suara pada Pilgub Maluku Utara 2018. Mantan bupati Kepuluan Sula yang berpasangan dengan Rivai Umar itu unggul tipis dari pasangan Abdul Ghani Kasuba-Al Yasin Ali (PDIP dan PKPI) yang meraup 30,93 persen suara.
Pasangan Burhan Abdurahman-Ishak Jamaluddin (Hanura, PBB, Demokrat, PKB, dan Nasdem) memperoleh 26,16 persen suara. Sementara, Muhammad Kasuba-Madjid Hussein (Gerindra, PKS, dan PAN) hanya 11,93 persen suara.
Posisi tersebut masih dapat berubah mengingat data yang masuk ke KPU hingga Jumat dini hari baru 2.059 (96,35 persen) dari total 2.137 TPS di Maluku Utara. Dengan selisih suara yang begitu tipis antara Hidayat dan Abdul Ghani, sulit memprediksi siapa dari mereka yang bakal keluar sebagai pemenang nanti.
Ahmad Hidayat Mus saat ini menjadi tersangka kasus korupsi bersama adiknya, Zainul Mus. Dugaan korupsi tersebut terjadi ketika Hidayat masih menjabat bupati Kepulauan Sula periode 2005 2010 dan Zainal sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sula periode 2009- 2014.
Hasil hitung cepat KPU di Pilgub Lampung 2018 per Jumat (29/6/2018) pukul 05.00 WIB. (Foto: iNews.id)
4. Mustafa
Berdasarkan hasil hitung cepat oleh Cyrus Network, Mustafa yang berpasangan dengan Ahmad Jajuli hanya meraup 12,9 persen suara pada Pilgub Lampung 2018. Pasangan kandidat yang diusung oleh Partai Nasdem, PKS, dan Hanura itu berada di urutan paling buncit, di bawah pasangan Arinal Djunaidi-Chusnunia (Golkar, PKB, dan PAN) yang unggul sementara dengan perolehan 41,7 persen suara; M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri (Demokrat, Gerindra, PPP) dengan 23,0 persen suara, dan; Herman HN-Sutono (PDIP) sebesar 22,3 persen suara.
Hasil hitung cepat Rakata Institute juga menempatkan Mustafa dan Ahmad Jajuli sebagai juru kunci di Pilgub Lampung 2018, yakni dengan perolehan 13,01 persen suara. Sementara, pasangan Arinal Djunaidi-Chusnunia berhasil meraup 37,59 persen suara; M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri 22,79 persen suara, dan; Herman HN-Sutono 27,04 persen suara.
Mustafa sebelumnya menjabat bupati Lampung Tengah. Dia ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan suap kepada anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah terkait persetujuan DPRD atas pinjaman daerah pada APBD tahun anggaran 2018.
5. Imas Aryumningsih
Berdasarkan entri data perolehan suara Pilkada Kabupaten Subang 2018 oleh KPU, hingga Kamis (28/6/2018) pukul 15.00 WIB, pasangan calon bupati Ruhimat dan calon wakil bupati Agus Masykur Royadi unggul sementara dengan perolehan 95.856 suara (46,52 persen). Pasangan tersebut mengalahkan calon petahana Imas Aryumningsih yang hanya mendulang 54.053 suara (26,23 persen).
Imas yang berpasangan dengan Sutarno juga kalah tipis dari pasangan Dedi Junaedi-Budi Setiadi yang meraih 56.166 suara (27,26 persen). Imas kini berstatus tahanan KPK terkait dengan kasus suap perizinan.
6. Nyono Suharli
Menurut entri data perolehan suara Pilkada Kabupaten Jombang 2018 oleh KPU, hingga Jumat (29/6/2018) pukul 03.32 WIB, data yang masuk sudah mencapai 2.040 (95,02 persen) dari total 2.147 TPS yang ada di daerah itu. Hasilnya, pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah unggul dengan perolehan 294.501 suara (48,32 persen).
Sementara, calon petahana Nyono Suharli yang berpasangan dengan Subaidi Muchtar mendapatkan 209.838 suara (34,43 persen). Di urutan terakhir, pasangan M Syafiin-Choirul Anam hanya meraih 105.183 suara (17,26 persen).
Nyono Suharli sebelumnya adalah Bupati Jombang. Dia terjaring OTT KPK pada awal Februari lalu dalam kasus dugaan suap terkait dana kapitasi puskesmas dan sejumlah proyek di Kabupaten Jombang.
Hasil hitung cepat KPU di Pilkada Kota Malang 2018 per Jumat (29/6/2018) pukul 05.00 WIB. (Foto: iNews.id)
7. Yaqud Ananda Gudban dan Mochamad Anton
Menurut entri data perolehan suara Pilkada Kota Malang 2018 oleh KPU, hingga Jumat (29/6/2018) pukul 03.32 WIB, data yang masuk sudah mencapai 1.384 (98,86 persen) dari total 1.400 TPS di daerah itu. Hasilnya, pasangan Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko berhasil unggul dengan perolehan 163.011 suara (44,51 persen).
Yaqud yang berpasangan dengan Wanedi, berada di urutan buncit dengan hanya mengantongi 69.251 suara (18,91 persen). Sementara, kandidat petahana Mochamad Anton yang maju bersama Syamsul Mahmud, berada di urutan kedua dengan 133.985 suara (36,58 persen).
Yaqud Ananda Gudban sebelumnya menjabat Ketua Fraksi Hanura-PKS di DPRD Kota Malang. Dia menjadi salah satu dari 18 anggota DPRD di kota itu yang ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap pembahasan APBD Perubahan Kota Malang tahun anggaran 2015.
Sementara, Mochamad Anton saat ini menjadi wali kota Malang nonaktif karena terjerat kasus hukum yang sama dengan Yaqud. Anton menjalani sidang perdana dalam kasus tersebut pada Jumat (8/6/2018).
Melihat hasil perhitungan sementara KPU tersebut, baik Yaqud maupun Anton sepertinya bakal menghadapi nasib yang sama di Pilkada Kota Malang tahun ini, yaitu sama-sama keok.
8. Syahri Mulyo
Hasil hitung cepat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tulungagung 2018 oleh KPU menempatkan pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati petahana, Syahri Mulyo-Maryoto Bhirowo (Sahto), sebagai pemenang dengan perolehan 59,73 persen suara. Sahto mengalahkan paslon pesaingnya, Margiono-Eko Prisdianto (Mardiko), yang hanya meraup 40,27 persen suara.
KPK resmi menahan Syahri Mulyo, Minggu (10/6/2018). Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu ditahan lantaran kasus dugaan suap proyek pembangunan infrastruktur peningkatan jalan di Dinas PUPR Kabupaten Tulungagung.
Editor: Ahmad Islamy Jamil